Ini situasi yang serba salah. Kalau kita bersuara kritis, kita akan dicap sakit hati atau belum bisa move on oleh para "Termul"-nya. Tapi kalau kita diam saja, kejahatannya akan terus merajalela. Meski, tamparan dari langit sepertinya mulai satu per satu menghampirinya.
Wajahnya yang lebam, rambut yang menipis, gigi yang tak lagi rapi. Setiap hari, hujatan datang bertubi-tubi. Baik dari mantan pendukungnya, apalagi dari lawan-lawan politik. Dia sedang menuai apa yang dia tanam: dusta, pengkhianatan, dan kelicikan. Caci maki dari jutaan orang yang sudah muak tak pernah berhenti.
Yang menarik, orang-orang hebat dari akademisi, politisi, hingga purnawirawan jenderal kini vokal mengkritiknya.
Di sisi lain, justru orang-orang yang dianggap 'sontoloyo' preman atau advokat yang dicopot izinnya berpakaian ala militer dengan bintang-bintang imitasi, mendeklarasikan diri sebagai komandan "Termul". Memalukan, bukan?
Ini akhir yang tragis untuk seorang mantan presiden. Dia mengkhianati rakyat yang dulu mempercayainya. Dia menjadikan diri dan keluarganya sebagai tokoh negara, tapi tak pernah bersyukur. Malah makin beringas, merusak tatanan yang ada.
Sapere aude! Beranilah berpikir! Salam revolusioner! Merdeka! ✊️… (SHE)
Sabtu, 31 Januari 2026.
Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik.
Artikel Terkait
Mendikdasmen Resmikan Puluhan Sekolah di Aceh, Bangkit Pascabencana
Gencatan Senjata Gaza Retak, 32 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara
Kapolri Siap Perang Demi Status Quo, Reformasi Polri Terancam Mandek
Mantan Penyidik KPK Buka Suara: Alat Usang Hambat Operasi Tangkap Tangan