Seratus Tahun NU: Seruan Kembali ke Khittah di Tengah Keresahan

- Minggu, 01 Februari 2026 | 20:00 WIB
Seratus Tahun NU: Seruan Kembali ke Khittah di Tengah Keresahan

Dalam akidah, kita mengikuti Imam Al-Asy'ari dan Al-Maturidi. Dalam fikih, kita bermazhab kepada salah satu dari empat imam, dengan penekanan pada Imam Syafi'i. Dalam tasawuf, kita mengikuti Al-Junaid Al-Baghdadi dan Al-Ghazali.

Nah, poin krusialnya di sini. KH Hasyim Asy'ari mengikuti ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah-nya Imam Al-Asy'ari, bukan ajaran Muktazilah yang justru telah ditinggalkan sang imam setelah mendapat perintah Nabi Muhammad SAW dalam mimpi. Fakta sejarah ini termaktub dalam kitab-kitab muktabar.

Namun belakangan, ada dugaan penyelewengan. Mulai dari pembelokan sanad keilmuan KH Hasyim Asy'ari, pengaburan dasar-dasar keagamaan NU, hingga menggeser kitab rujukan dari Ahlussunnah ke Muktazilah. Ini jelas menyalahi Khitthah.

KH Ahmad Shiddiq pernah mengingatkan bahaya Muktazilah, menempatkannya bersama Syiah dan Khawarij sebagai sekte yang membahayakan kemurnian ajaran Islam Ahlussunnah.

Kalau penyusupan paham ini dibiarkan, dampaknya bisa parah. Fakta sejarah bisa hilang. Tokoh Muktazilah bisa dianggap guru. Bahkan, NU bisa berubah 'kelamin' dari Ahlussunnah menjadi Muktazilah. Umat Islam pun bisa tersesat.

Keempat, soal sikap ekstrem. Moderatitas adalah prinsip dasar NU, baik dalam beragama maupun berpolitik. Tapi akhir-akhir ini, banyak oknum pengurus justru mengarahkan warga NU bersikap radikal.

Sikap ekstrem ini bahkan ditunjukkan sejumlah elit, seperti mantan Ketum PBNU dan mantan Ketua PWNU Jatim yang dikutip berbagai media. Mereka mengabaikan prinsip al-hikmah dan mau'idhah hasanah. Bahkan mengesampingkan akhlaqul karimah.

Padahal, terhadap yang berbeda agama saja kita harus tawasuth dan tasamuh, apalagi sesama muslim. Memang ada perbedaan manhaj, tapi itu bukan alasan untuk membenci secara berlebihan. Ingat, terhadap eks PKI yang jelas-jelas musuh negara dan NU pun kita diajarkan untuk tetap baik. Lalu, mengapa terhadap sesama muslim seperti Wahabi, HTI, atau FPI kita harus kasar? Jika mereka dianggap berbahaya, bukankah PKI juga sama bahayanya?

Kelima, PBNU harus melayani, bukan menguasai umat.

Seperti diingatkan almarhum KH Tolchah, NU sudah diberi pakem: melayani umat. Bukan menguasainya. NU adalah sarana untuk melayani umat Islam di Indonesia, bukan alat untuk menguasai mereka. Melayani dan menguasai itu beda tipis tapi maknanya jauh. Melayani memberi, menguasai mengambil.

Kyai Tolchah pernah bercerita tentang kegelisahan warga NU di tahun 1970-an. Rasa gelisah itu mungkin sama dengan yang kita rasakan sekarang, saat NU terasa tidak lagi melayani, tapi justru menguasai.

Dulu, KH Ahmad Shiddiq kerap mengundang tokoh seperti KH Tolchah, KH Muchith Muzadi, dan lainnya untuk diskusi. Dari situlah akhirnya lahir buku kecil berjudul "Kembali ke Khitthah 1926". Saat itu, para kyai berpikir keras bagaimana mengembalikan PBNU sebagai khodimul ummah, pelayan umat.

Keliru besar jika warga NU cuma digiring jadi simpatisan partai politik tertentu. Kapitalisasi terhadap warga NU selama ini harus dihentikan. PBNU harus kembali ke Khitthah 1926. Dan warganya harus berpegang teguh pada Sembilan Butir Pedoman Berpolitik Warga NU.

"Tulisan ini adalah refleksi dan ajakan untuk kembali ke khittah, disampaikan dengan penuh kecintaan pada organisasi Nahdlatul Ulama.


Halaman:

Komentar