Warna merah mulai bermunculan di sudut-sudut kota, pertanda Tahun Baru Imlek 2026 sudah di depan mata. Tapi bagi masyarakat Tionghoa, perayaan ini jauh lebih dalam dari sekadar pesta dan hura-hura. Setiap ritual yang dilakukan, dari makan bersama sampai bagi-bagi angpao, sarat dengan filosofi hidup yang telah diwariskan turun-temurun.
Monika Herliana, dosen Bahasa Mandarin di Unsoed, membenarkan hal ini. Menurutnya, Imlek adalah momen pergantian tahun yang paling sakral.
katanya.
Lalu, apa saja makna di balik tradisi yang terlihat meriah itu? Mari kita telusuri satu per satu.
Angpao: Bukan Cuma Uang Jajan
Momen ini pasti dinanti-nanti, terutama oleh anak kecil dan yang belum menikah. Amplop merah atau hong bao memang jadi primadona. Tapi Monika menegaskan, pemberian ini bukan sekadar uang saku. Ini adalah perwujudan doa dari orang tua agar anak cucunya dilimpahi rezeki dan kebahagiaan di tahun baru.
Silaturahmi yang Wajib
Imlek adalah waktu terbaik untuk quality time. Berkunjung ke rumah sanak saudara adalah agenda yang tak bisa ditawar. "Hal ini dilakukan dengan mengunjungi keluarga dan kerabat yang berdekatan untuk memberikan salam dan ucapan selamat Imlek," terang Monika. Intinya, mempererat ikatan.
Lilin, Dupa, dan Harapan
Coba pergi ke klenteng atau rumah warga Tionghoa saat Imlek. Aroma dupa yang khas dan cahaya lilin yang temaram pasti langsung terasa. Ritual spiritual ini punya tujuan ganda: menolak bala dan mengusir energi buruk, sekaligus menjadi simbol harapan untuk menyambut nasib baik di tahun yang baru.
Artikel Terkait
Saudi dan UEA Tutup Wilayah untuk Serangan AS ke Iran, Pertanda Pergeseran Kekuatan
Bocor Rp155 Triliun, Devisa Negara Tersedot Ekspor Emas Ilegal
Anies Baswedan Ajak Pengawal Sipil Foto Bareng Saat Makan di Warung
Durian Jadi Senjata Diplomasi: Bagaimana Buah Berduri Kuasai Pasar Tiongkok dan Pererat Hubungan ASEAN