Di Balik Angpao dan Kembang Api: Filosofi Tersembunyi yang Menghidupkan Imlek

- Minggu, 01 Februari 2026 | 19:45 WIB
Di Balik Angpao dan Kembang Api: Filosofi Tersembunyi yang Menghidupkan Imlek

Warna merah mulai bermunculan di sudut-sudut kota, pertanda Tahun Baru Imlek 2026 sudah di depan mata. Tapi bagi masyarakat Tionghoa, perayaan ini jauh lebih dalam dari sekadar pesta dan hura-hura. Setiap ritual yang dilakukan, dari makan bersama sampai bagi-bagi angpao, sarat dengan filosofi hidup yang telah diwariskan turun-temurun.

Monika Herliana, dosen Bahasa Mandarin di Unsoed, membenarkan hal ini. Menurutnya, Imlek adalah momen pergantian tahun yang paling sakral.

katanya.

Lalu, apa saja makna di balik tradisi yang terlihat meriah itu? Mari kita telusuri satu per satu.

Angpao: Bukan Cuma Uang Jajan

Momen ini pasti dinanti-nanti, terutama oleh anak kecil dan yang belum menikah. Amplop merah atau hong bao memang jadi primadona. Tapi Monika menegaskan, pemberian ini bukan sekadar uang saku. Ini adalah perwujudan doa dari orang tua agar anak cucunya dilimpahi rezeki dan kebahagiaan di tahun baru.

Silaturahmi yang Wajib

Imlek adalah waktu terbaik untuk quality time. Berkunjung ke rumah sanak saudara adalah agenda yang tak bisa ditawar. "Hal ini dilakukan dengan mengunjungi keluarga dan kerabat yang berdekatan untuk memberikan salam dan ucapan selamat Imlek," terang Monika. Intinya, mempererat ikatan.

Lilin, Dupa, dan Harapan

Coba pergi ke klenteng atau rumah warga Tionghoa saat Imlek. Aroma dupa yang khas dan cahaya lilin yang temaram pasti langsung terasa. Ritual spiritual ini punya tujuan ganda: menolak bala dan mengusir energi buruk, sekaligus menjadi simbol harapan untuk menyambut nasib baik di tahun yang baru.

Kembang Api yang Mengusir Roh Jahat


Halaman:

Komentar