Di sisi lain, ada Nawiri yang justru punya pandangan berbeda. Pria 60 tahun ini sudah jadi pengangkut sampah sejak 1996. Rutinitasnya tiap hari: mendorong gerobak menyusuri RT 3, Legoso Utara, untuk kumpulkan sampah warga.
Jelasnya. Menurut Nawiri, sistemnya memang begitu. Mobil pengangkut sampah pemerintah daerah tak bisa masuk ke permukiman sempit, jadi titik trotoar itulah tempat penampungan sementara. “Saya dari dalem (kawasan rumah warga). Kalau mobil kan masuk-masuk enggak bisa,” tambahnya.
Sampah biasanya mulai dikumpulkan sejak siang. Baru diangkut sekitar pukul 4 pagi keesokan harinya. Setelah itu, warga dilarang menaruh sampah lagi sampai sore. “Iya, pokoknya kalau udah diangkut itu pagi jam-jam 7 tuh jamnya enggak boleh diangkut taruh dulu. Entar kalau udah jam segini, baru boleh gitu kan,” ucap Nawiri.
Soal sampah memenuhi trotoar, Nawiri mengaku biasa saja. Sudah terbiasa. Dia juga menyoroti bahwa yang suka buang sampah sembarangan justru orang luar, bukan warga setempat yang rutin bayar iuran. “Kalau warganya mah diambilin. Paling yang naruh (langsung) ini orang-orang luar,” ujarnya.
Tiga puluh tahun bergelut dengan sampah. Bau, risiko penyakit, pandangan orang semua itu sudah jadi bagian hidupnya. “Ah udah biasa,” tandasnya singkat. Bagi Nawiri, ini pekerjaan. Bagi Kasadi, ini masalah yang mengancam. Dua sudut pandang, satu trotoar yang sama.
Artikel Terkait
Prabowo Masuk Dewan Perdamaian Trump: Jebakan atau Pengkhianatan Konstitusi?
Prabowo Diam, Polri Tetap di Bawah Presiden: Strategi atau Keengganan Reformasi?
Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu
Seratus Tahun NU: Seruan Kembali ke Khittah di Tengah Keresahan