Khutbah itu tidak terasa seperti ceramah kaku. Lebih mirip nasihat hidup dari seorang bapak. Bahwa membangun rumah tangga adalah kerja sama, upaya bersama dua insan untuk mencari ridha-Nya.
Hari itu, Gedung Paksur menyaksikan satu hal: pernikahan bisa jadi ruang pertemuan yang lebih luas. Tempat nilai-nilai, sejarah, dan harapan berkumpul. Pernikahan Abdul Hadi dan Alya Nabila adalah awal sebuah perjalanan. Bukan cuma untuk membangun bahtera rumah tangga, tapi juga untuk meneruskan jejak kebaikan yang sudah dirintis.
Suasana haru pun makin terasa ketika sebuah video diputar. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengirimkan ucapan selamat. Ia sebenarnya diundang langsung, tapi berhalangan karena ada agenda di Universitas Gadjah Mada.
Meski dari jauh, doanya tulus mengalir.
Ia mendoakan pasangan ini dikaruniai anak-anak yang saleh dan salehah, penyejuk hati. Anies juga menekankan, pernikahan ini menyatukan dua keluarga besar dalam satu ikatan yang kuat.
Dan di antara semua ucapan dan doa yang meluncur, tersimpan harapan yang mendasar. Semoga cinta yang diikat siang itu tumbuh seiring iman. Lalu bertahan, hingga ujung usia.
Artikel Terkait
Prabowo Diam, Polri Tetap di Bawah Presiden: Strategi atau Keengganan Reformasi?
Karpet Merah dan Kitab Kuning: Nurul Majalis, Ruang Bersama Anak Muda Merawat Ilmu
Seratus Tahun NU: Seruan Kembali ke Khittah di Tengah Keresahan
Sorot Mata yang Pudar: Trauma Bocah Cianjur Usai Diterjang Delapan Anjing Liar