Dampak paling brutal terasa di sektor minyak bumi. Dulu, di era Orde Baru, Indonesia sebagai anggota OPEC bisa produksi 1,7 juta barel per hari. Sekarang? Cuma sekitar 600 ribu barel. Peran negara yang menciut dimanfaatkan oleh Pertamina dan jajaran direksinya untuk memangkas produksi dan membesarkan volume impor.
Angkanya fantastis. Impor minyak kita tahun 2024 ini mencapai USD 36 miliar, atau hampir Rp 600 triliun. Di balik angka sebesar itu, ruang untuk korupsi terbentang luas. Mulai dari kontrak, transaksi, pengapalan, sampai penyaluran. Bandingkan kalau kita sedot sendiri dari perut bumi dan salurkan langsung ruang untuk main kotor jadi sangat kecil.
Dari kacamata politik, pemilihan langsung presiden dan kepala daerah selalu memicu pergolakan yang menggoyang ekonomi. Parahnya, pemenangnya kerap lebih loyal pada taipan yang mendanainya ketimbang pada kepentingan negara. Otonomi daerah pun melahirkan raja-raja kecil di daerah yang terus menuntut wewenang lebih luas, lalu membagi-bagi kekuasaan itu pada istri, anak, atau saudaranya.
Rakyat sudah berulang kali mendesak agar sistem pemilihan langsung dikoreksi. Tapi respons dari elit politik?
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dengan tegas dan emosional menolak. Bagi Dasco, sistem dimana pemenangnya menjalankan kepentingan taipan adalah yang terbaik. Dan soal kepala daerah yang menuntut otonomi lebih luas yang bisa mengarah pada pemisahan diri mungkin itu justru tujuannya.
Lalu Presiden Prabowo? Di tengah sengkarutnya perkelahian Trump dengan Ketua The Fed Jerome Powell, dia malah memanfaatkan momentum itu untuk mengangkat keponakannya yang dianggap tidak kredibel menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Padahal, The Fed dan BI sama-sama lembaga independen. Alih-alih melihat peluang untuk bangsa, Prabowo justru seolah memanfaatkannya untuk kepentingan keluarga.
Indonesia benar-benar di ujung tanduk. Menuju kehancuran. Tugas kita sekarang mungkin cuma mencatat, menyaksikan, dan mengingat setiap ucapan serta perilaku pemimpin. Jika nanti momentum pergolakan rakyat tercipta untuk menjatuhkan kekuasaan ini, jangan perlakukan Dasco dan Prabowo seperti Sahroni. Perlakukan mereka seperti Raja Louis XVI.
Artikel Terkait
Interpol Akhirnya Terbitkan Red Notice untuk Riza Chalid Setelah Proses Alot Empat Bulan
Reruntuhan Hidup di Antara Nisan: Kisah 100 Keluarga yang Tergusur Demi Makam
Bahar Bin Smith Ditetapkan Tersangka Penganiayaan Anggota Banser
Trotoar Kertamukti: Kabel Menggantung dan Sampah Menumpuk, Pejalan Kaki Terancam