Sabtu lalu, di sebuah pertemuan yang cukup hangat, Mayjen (Purn.) Soenarko menyuarakan kegelisahan yang sudah lama mengendap. Menurutnya, selama hampir sepuluh tahun terakhir, kedaulatan rakyat Indonesia perlahan tapi pasti direnggut oleh segelintir oligarki. Pertemuan yang mengumpulkan berbagai elemen, dari purnawirawan hingga aktivis lintas gerakan itu, memang sengaja digelar untuk menyatukan suara.
Soenarko tak sungkan menyampaikan kritik pedasnya. Suaranya tegas.
Begitu katanya. Intinya, rakyat yang seharusnya jadi majikan, kini cuma jadi objek belaka. Dalam sistem republik dan demokrasi, situasi ini jelas terbalik.
Dia lalu menjabarkan contoh konkritnya. Banyak perubahan undang-undang, misalnya, diputuskan secara tertutup. Tanpa melibatkan rakyat, tanpa sosialisasi yang memadai, bahkan seringkali mengabaikan masukan para ahli. Semua seolah hanya urusan antara pemerintah dan parlemen.
Artikel Terkait
Buku Darurat Belanda: Bukan Alarm Perang, tapi Ajakan Bertahan Mandiri
Lantai Ambrol di Tangsi Belanda Siak, Puluhan Pelajar SD Terluka
MSCI Beri Peringatan, Pasar Modal Indonesia di Ambang Degradasi
Operasi SAR 13 Hari di Gunung Lawu Ditutup, Yasid Ahmad Firdaus Belum Ditemukan