“Badan lebih segar aja sih. Lebih enak karena banyak gerak,” kata Aris.
“Lebih fresh,” tambah Eka.
Anak-anak mereka juga ternyata lebih antusias naik sepeda ketimbang main biasa di CFD.
“Lebih suka sepedaan,” kata Eka singkat.
Dan habis bersepeda? Acaranya selalu sederhana tapi ditunggu-tunggu.
“Cari makan sih kita biasanya,” ujar Aris.
“Cari makan, santai aja,” sahut Eka sambil tertawa.
Meski menikmati, Aris punya catatan. Menurutnya, kenyamanan untuk pesepeda masih bisa ditingkatkan. Seringkali ruang untuk sepeda, pejalan kaki, dan pelari itu campur aduk, jadi agak mengganggu.
“Kalau sepeda, kurang nyaman ya karena banyak yang jalan juga. Jadi terganggu,” keluhnya.
Ia berharap ada penataan yang lebih baik ke depannya.
“Mungkin dibuat jalurnya khusus sepeda. Antara sepeda dan yang jalan kaki dan lari,” usul Aris.
“Khusus di sepeda, lebih ditertibkan lagi,” Eka menyetujui.
“Iya dipisahkan gitu,” lanjutnya.
Sementara obrolan dengan keluarga tadi berlangsung, langit semakin kelam. Sekitar pukul delapan lebih, hujan pun turun membasahi Bundaran HI. Tapi anehnya, keramaian nggak serta-merta hilang. Masih ada aja yang nekat lari atau bersepeda di bawah guyuran air, menikmati CFD dengan caranya sendiri.
Bagi keluarga seperti Aris dan Eka, momen seperti ini lebih dari sekadar olahraga. Ini adalah kesempatan langka di tengah kesibukan kerja untuk sekadar berkumpul, bercanda, dan menciptakan kenangan sederhana untuk anak-anak mereka.
Artikel Terkait
Gerakan Rakyat Serukan Prabowo Tarik Diri dari Board of Peace Trump
Habib Bahar Bin Smith Resmi Jadi Tersangka Penganiayaan Anggota Banser
Besok di Sentul, Prabowo Buka Rakornas Pusat-Daerah di Hadapan Ribuan Pejabat
Buku Darurat Belanda: Bukan Alarm Perang, tapi Ajakan Bertahan Mandiri