Di sisi lain, ia menegaskan peran aktif masyarakat. Setiap warga negara punya hak dan kewajiban untuk mengkritisi. Apalagi jika ada kebijakan yang dinilai melenceng dari prinsip keadilan. Kritik yang konstruktif, dalam pandangannya, justru adalah wujud nyata kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
“Tugas kita adalah terus mengkritisi. Itu hak kita semua,” kata Guru Besar IPB University itu dengan nada meyakinkan.
Irfan lalu mengajak kita melihat ke belakang, mengingat sebuah fakta sejarah yang tak boleh terlupa. Palestina, tuturnya, adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Karena itu, membela mereka sekarang bukan cuma soal solidaritas, tapi juga bentuk balas budi dan rasa syukur.
“Salah satu ciri bangsa yang bersyukur adalah tidak melupakan jasa pihak yang pernah berjasa,” tegasnya. “Kalau kita tidak bersyukur, berarti kita tidak berterima kasih kepada Allah.”
Di akhir penyampaiannya, ia mengajak semua pihak untuk tak berhenti bergerak. Gerakan anti-zionisme harus terus dikumandangkan. Pembelaan bisa diwujudkan lewat doa, kontribusi sesuai kemampuan, dan yang tak kalah penting: terus mempelajari dinamika geopolitik dengan cermat.
“Sebagai rakyat, kita terus gunakan hak kita untuk menyuarakan kebenaran,” pungkas Irfan. Pesannya sederhana namun berat: tetap berada di barisan perjuangan, sambil tetap kritis membaca situasi yang terus berubah.
Artikel Terkait
Dokter Anak Tangani Balita Kejang di Pesawat, Penerbangan Tetap Lanjut
Negara Hukum atau Negara Opini? Ancaman Tafsir Liar di Ruang Publik
Gerakan Rakyat Serukan Prabowo Tarik Diri dari Board of Peace Trump
Habib Bahar Bin Smith Resmi Jadi Tersangka Penganiayaan Anggota Banser