Guncangan Pasar Modal: BEI dan OJK Diuji Kembalikan Kepercayaan yang Retak

- Minggu, 01 Februari 2026 | 06:25 WIB
Guncangan Pasar Modal: BEI dan OJK Diuji Kembalikan Kepercayaan yang Retak

Diam terlalu lama bisa ditafsirkan sebagai ketidaksiapan. Pernyataan yang defensif bisa dibaca sebagai penyangkalan. Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang jujur, terukur, dan menunjukkan bahwa regulator paham masalahnya sekaligus punya peta jalan yang jelas untuk perbaikan.

Reformasi: Lebih dari Sekadar Respons Krisis

Setiap krisis selalu membawa peluang. Guncangan pasar saat ini harusnya jadi momentum untuk evaluasi menyeluruh terhadap struktur pasar modal kita. Reformasi tidak boleh berhenti pada langkah jangka pendek untuk menenangkan pasar. Ia harus menyentuh akar persoalan.

Pertama, kualitas emiten harus jadi prioritas. Pengetatan aturan free float, peningkatan standar tata kelola, dan evaluasi berkelanjutan terhadap emiten yang tercatat perlu dilakukan konsisten. Pasar publik bukan tempat bagi perusahaan yang belum siap untuk transparan.

Kedua, penguatan pengawasan harus berbasis data dan teknologi. OJK perlu memastikan sistem pemantauan transaksi mampu mendeteksi pola perdagangan tidak wajar secara dini, bukan setelah dampaknya meluas. Penegakan hukum yang tegas dan transparan juga penting untuk menciptakan efek jera.

Ketiga, pendalaman pasar harus jadi agenda serius. Ketergantungan pada segelintir saham berkapitalisasi besar menciptakan risiko sistemik. Keterlibatan investor institusi domestik, seperti dana pensiun dan asuransi, bisa jadi penyeimbang volatilitas jangka pendek.

Investor Ritel: Antara Harapan dan Perlindungan

Lonjakan jumlah investor ritel dalam beberapa tahun terakhir adalah pencapaian. Tapi, peningkatan partisipasi harus diimbangi dengan perlindungan yang memadai. Investor ritel sering jadi pihak paling rentan ketika pasar bergejolak, apalagi jika mereka berinvestasi tanpa pemahaman risiko yang cukup.

Edukasi keuangan memang kunci. Tapi edukasi saja tidak cukup. Struktur pasar dan aturan main harus dirancang agar tidak menjebak investor ritel dalam volatilitas ekstrem yang tidak proporsional. Di sinilah peran regulator dan bursa sangat penting: memastikan pasar tidak hanya ramai, tetapi juga adil.

Menjaga Wibawa Pasar Modal

Pasar modal adalah cerminan kredibilitas sebuah negara. Ia menunjukkan seberapa kuat institusi, seberapa konsisten aturan ditegakkan, dan seberapa serius negara melindungi kepentingan investor. Ketika pasar terguncang, yang dipertaruhkan bukan cuma nilai indeks, tapi reputasi jangka panjang.

BEI dan OJK berada di persimpangan penting. Langkah-langkah yang diambil hari ini akan menentukan nasib. Apakah guncangan ini dikenang sebagai krisis yang memperlemah pasar, atau justru jadi titik balik menuju pasar modal yang lebih matang dan berintegritas.

Kepercayaan Harus Dibangun, Bukan Diminta

Kepercayaan tidak bisa diminta, apalagi dipaksakan. Ia harus dibangun. Melalui konsistensi, transparansi, dan keberanian mengambil keputusan yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek, tapi sehat untuk jangka panjang. Pasar modal Indonesia punya potensi besar. Ekonomi yang tumbuh, demografi kuat, basis investor domestik yang terus berkembang.

Tapi potensi itu hanya akan terwujud jika fondasinya kokoh. Guncangan pasar saat ini adalah peringatan, bukan vonis. Ia memberi kesempatan bagi BEI dan OJK untuk membuktikan diri. Bahwa mereka bukan sekadar pengelola rutinitas, melainkan penjaga integritas pasar.

Pada akhirnya, pasar yang kuat bukanlah pasar yang tidak pernah jatuh. Melainkan pasar yang mampu bangkit dengan sistem yang lebih baik. Kepercayaan publik dan investor global akan kembali bukan karena janji, tapi karena bukti nyata. Bukti bahwa pasar modal Indonesia belajar dari krisis dan berani berbenah.

(red/ed-jaksat-am)


Halaman:

Komentar