Namun begitu, fenomena ini juga punya sisi lain. Ada keberanian baru yang tumbuh. Penumpang sekarang lebih vokal menegur perilaku yang dianggap mengganggu atau tidak adil. Ini bisa dilihat sebagai tanda kesadaran sosial yang mulai bangkit, meski caranya kadang terasa keras dan emosional.
Tapi jangan salah, di balik semua drama yang viral itu, ada kisah-kisah lain yang jarang terdengar. Saya sendiri sering melihatnya: orang muda yang rela berdiri memberikan tempat duduknya, orang asing yang membantu mengangkat koper berat, atau penumpang lain yang jadi penengah saat suhu mulai memanas. Sayangnya, kebaikan-kebaikan kecil semacam ini jarang jadi headline. Ia tenggelam, kalah pamor oleh konten-konten yang lebih sensasional.
Pada akhirnya, perjalanan dengan KRL itu lebih dari sekadar berpindah dari titik A ke B. Ia semacam mikrokosmos, ruang belajar bersama tentang hidup di kota besar. Di sini kita diuji bukan cuma soal bisa sampai tepat waktu atau tidak, tapi lebih dalam: tentang seberapa besar empati kita, sepanjang apa kesabaran kita, dan kemampuan kita untuk sekadar memahami bahwa orang lain juga punya hari yang berat.
Mungkin drama di commuter line memang tak akan pernah hilang total. Selama kota ini tetap bergerak dan kita harus berbagi ruang sempit, gesekan akan selalu ada potensinya. Tapi yang bisa kita kendalikan adalah respons kita. Mungkin dengan sedikit lebih sabar, atau sekadar mengerti bahwa semua orang di gerbong itu sama lelahnya. Perjalanan yang lebih manusiawi seringkali dimulai dari sikap sederhana seperti itu.
Artikel Terkait
Malaikat di Roma yang Mirip PM Meloni Picu Polemik Politik
Utusan AS dan Rusia Gelar Pembicaraan Rahasia di Florida, Bahas Jalan Damai Ukraina
Balita 4 Tahun di Cilacap Tewas Dibunuh dan Dilecehkan oleh Tetangga Sendiri
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak