Pembangunan Hunian Sementara atau Huntara untuk korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar terus digenjot. Pemerintah nampaknya tak mau berlama-lama. Data terbaru menunjukkan, dari total 17.499 unit yang direncanakan, sebanyak 4.263 unit sudah berdiri. Angka itu setara dengan 24 persen dari target keseluruhan.
Kalau dilihat per provinsi, ceritanya jadi berbeda-beda. Aceh, misalnya, punya kebutuhan paling besar. Rencananya, dibutuhkan 15.934 unit Huntara di sana. Tapi hingga akhir Januari lalu, yang selesai baru 3.248 unit atau sekitar 20 persen. Pembangunannya tersebar di sejumlah kabupaten dan kota yang dilanda banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
Di sisi lain, progres di Sumatera Utara terhitung lebih baik. Dari 947 unit yang ditargetkan, 539 unit sudah rampung. Itu artinya capaiannya sekitar 57 persen.
Namun yang paling mencolok adalah Sumatera Barat. Provinsi ini menunjukkan persentase penyelesaian tertinggi. Mereka sudah menyelesaikan 476 unit dari 618 unit yang direncanakan. Angkanya mencapai 77 persen, jauh di atas provinsi lainnya.
Lantas, kenapa bisa beda-beda? Ternyata, banyak faktor yang mempengaruhi. Skala kebutuhan yang tidak sama, kesiapan lahan, plus akses logistik ke lokasi bencana jadi penentu utama. Meski begitu, pemerintah bilang percepatan pembangunan akan terus diupayakan secara merata.
Upaya ini tak bisa dikerjakan sendirian. Kolaborasi lintas sektor pun digalang. Kementerian, lembaga, pemda, TNI/Polri, sampai BUMN dan lembaga filantropi turun tangan. Sinergi semacam ini dianggap kunci agar pembangunan bisa cepat, terkoordinasi, dan memenuhi standar layak huni.
Selain soal atap, kebutuhan dasar selama masa transisi ini juga tak boleh luput. Pemerintah memastikan hal itu tetap terpenuhi.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, ada juga bantuan Dana Tunggu Hunian atau DTH. Bantuan ini ditujukan untuk keluarga yang belum mendapat Huntara atau hunian tetap. Besarannya Rp600.000 per bulan per keluarga, diberikan untuk tiga bulan.
Hingga akhir Januari 2026, realisasinya sudah menjangkau 5.448 kepala keluarga. Jumlah itu sekitar 30 persen dari total 18.043 keluarga yang terdata di tiga provinsi tersebut.
Rinciannya, di Aceh dari 9.474 keluarga penerima, yang sudah dapat DTH baru 2.310 keluarga. Sumut, 1.666 keluarga dari 6.565 keluarga terdata.
Sementara itu, lagi-lagi Sumbar unggul dalam penyaluran. Sebanyak 1.472 keluarga di sana sudah menerima bantuan dari total 2.004 keluarga. Capaiannya fantastis, 73 persen.
Proses penyaluran DTH sendiri melibatkan pemerintah pusat, daerah, dan perbankan Himbara. Tujuannya jelas, agar bantuan tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.
Pada akhirnya, pemerintah menegaskan komitmennya. Percepatan pembangunan Huntara dan penyaluran bantuan akan terus diprioritaskan. Harapannya, masa pengungsian bisa segera berakhir. Kehidupan sosial-ekonomi masyarakat bisa kembali berdenyut. Dan yang tak kalah penting, semua ini bisa jadi fondasi kokokh menuju hunian tetap yang aman dan berkelanjutan di masa depan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu