Peran kepala daerah dan Forkopimda, menurutnya, krusial. Mereka dianggap sebagai motor penggerak utama di lapangan. Mulai dari penyelenggaraan pemerintahan, pemberdayaan masyarakat, sampai pembangunan fisik. Nah, Rakornas inilah yang diharapkan bisa menyatukan pemahaman dan menyelaraskan langkah. Koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah jadi kunci utamanya.
Di sisi lain, momentum tahun 2026 sendiri terasa spesifik. Tahun ini adalah tahun kedua pelaksanaan RPJMN 2025–2029. Visinya sudah jelas: “Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045”. Visi yang ambisius itu butuh kerja sama dan tekad kolektif. Semua itu diwujudkan lewat apa yang disebut Asta Cita, yang kemudian dijabarkan jadi 17 program prioritas plus program-program cepat lainnya di berbagai sektor.
Benni menambahkan, signifikansi Rakornas tahun ini juga terletak pada sifatnya yang lintas sektor. Forum ini melibatkan hampir seluruh unsur pemerintahan dan penegak hukum. Forkopimda, misalnya, punya peran strategis yang berat: menjaga stabilitas sosial-politik, menyelesaikan persoalan daerah, dan mendukung pemerintahan berjalan lancar.
Dengan pendekatan kolaboratif, Rakornas 2026 diharapkan bisa jadi lebih dari sekadar agenda rutin. Ia harus menjadi jembatan yang efektif antara kebijakan di Jakarta dengan realitas yang ada di seluruh penjuru Nusantara. Harapannya, hubungan pusat dan daerah makin solid, adaptif, dan tanggap menghadapi segala tantangan. Semua demi satu tujuan akhir: Indonesia Emas 2045.
Artikel Terkait
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi
Restoran Keluarga dan Luka Masa Lalu: Kisah Cinta Kedua di Predestined Love
Malam Haru di Cilandak, Sjafrie Sjamsoeddin Berduka untuk Sahabat Seangkatan
Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah Diduga Darah Menstruasi