Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 18:40 WIB
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama

Lantas, Ada Shalat Khusus Nggak?

Ini penting. Soal shalat khusus di malam itu, jawabannya cukup jelas. Tidak ada hadits shahih bahkan dhaif sekalipun yang menganjurkannya. Yang beredar justru hadits-hadits maudhu’ (palsu). Seperti satu riwayat yang menyebutkan shalat dua belas rakaat dengan membaca Surat Al-Ikhlas berkali-kali, dijanjikan bisa melihat tempat di surga.

Imam Ibnu al-Jauzi dan Imam as-Suyuthi dengan tegas menyatakan riwayat itu palsu. Pendapat mereka didukung banyak ulama. Imam al-‘Iraqi dalam kitabnya bahkan menulis dengan singkat: “Hadits shalat nishfu Sya’ban adalah batil.”

Imam an-Nawawi rahimahullah juga bersuara lantang. Dalam al-Majmu’, beliau menegaskan bahwa shalat seratus rakaat di malam Nishfu Sya’ban sama seperti shalat Raghaib di Rajab adalah bid’ah yang buruk. Jangan terkecoh hanya karena ia disebutkan dalam kitab-kitab populer.

Namun menariknya, untuk aktivitas menghidupkan malamnya secara umum, Ibnu Shalah justru sepakat dengan para ulama yang menganjurkannya.

Jadi, Gimana Caranya?

Caranya sederhana, kok. Hidupkan malam itu dengan tilawah Al-Quran, perbanyak dzikir, dan panjatkan doa. Salah satu doa yang bisa dibaca adalah:

أَعُوْذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَأَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ جَلَّ وَجْهُكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلىَ نَفْسِكَ

"

Ada catatan menarik tentang Ibnu Shalah. Awalnya beliau memfatwakan bid’ahnya shalat di malam itu, tapi kemudian rujuk. Beliau akhirnya berpendapat shalat itu dianjurkan, meski tetap mengakui hadits-haditsnya palsu. Ini menunjukkan satu hal: kepalsuan sebuah hadits tidak otomatis membatalkan kesunnahan suatu amal, karena bisa jadi dasarnya dari dalil lain.

Tapi ya, pendapatnya ini pun tak luput dari bantahan. Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam menolaknya. Bahkan murid-murid Ibnu Shalah sendiri, seperti Imam Abu Syamah dan Imam Nawawi, ikut membantah gurunya. Ini pelajaran berharga. Bermazhab bukan berarti fanatik buta. Standar kebenaran tetaplah dalil.

Jadi, kalau mau disimpulkan:

  • Pertama, malam Nishfu Sya’ban punya keutamaan. Menghidupkannya dengan ibadah itu dianjurkan.
  • Kedua, jangan cari shalat khusus untuk malam ini. Nggak ada.
  • Ketiga, isi malam itu dengan hal-hal yang memang jelas tuntunannya: baca Quran, dzikir, dan berdoa.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Halaman:

Komentar