Manajemen Waktu: Pondasi Masa Depan Anak Muda
Oleh Aendra Medita")
“Until we can manage time, we can manage nothing else.”
Begitulah kira-kira Peter Drucker, bapak manajemen modern, pernah bilang. Artinya sederhana: sebelum kita bisa mengatur waktu, kita takkan bisa mengatur apa-apa.
Pernah nggak sih, bangun tidur langsung meraih ponsel? Niatnya cuma cek notifikasi, eh malah keasyikan scroll. Satu jam pun lenyap begitu saja. Itu gambaran sehari-hari banyak anak muda sekarang. Distraksi ada di mana-mana, lebih dari generasi mana pun.
Dan anehnya, hampir semua merasa waktu mereka kurang. Padahal, ya sama aja kok. Dua puluh empat jam. Tidak kurang, tidak lebih. Lalu di mana masalahnya?
Bukan pada waktunya. Tapi pada cara kita memperlakukannya.
Sibuk Tapi Tidak Bergerak
Kita hidup di era di mana "sibuk" seolah jadi identitas. Kalau jadwalmu penuh, notifikasi tak henti, kamu dianggap produktif. Tapi coba tanya: apa benar semua kesibukan itu menghasilkan sesuatu?
Banyak mahasiswa sibuk organisasi, tapi lulus tanpa arah yang jelas. Banyak anak muda sibuk kerja, tapi hidupnya terasa jalan di tempat. Hari demi hari berlalu, energi terkuras habis, tapi masa depan kok rasanya makin jauh saja.
Jangan-jangan, kesibukan cuma jadi topeng yang nyaman. Topeng untuk nutupin kebingungan. Untuk menghindari keputusan-keputusan penting yang bikin pusing.
Waktu Bukan Tekanan, Tapi Modal
Sejak kecil kita diajarin bahwa waktu itu mengejar kita. Deadline, jam masuk, batas usia semuanya bikin waktu terasa kayak musuh. Padahal, sebenarnya waktu itu modal. Modal yang paling netral. Ia nggak memihak siapa-siapa.
Yang bikin dia terasa kejam atau bersahabat, ya cara kita sendiri menggunakannya. Mahasiswa yang bisa ngatur waktu dari awal punya keunggulan besar. Bukan karena dia paling pinter, tapi karena dia paling sadar.
Sadar kapan harus fokus total. Kapan harus berhenti. Dan sadar bahwa nggak semua hal harus direspons saat itu juga.
Budaya Instan dan Ilusi Produktif
Kita tumbuh di budaya serba instan. Pesan instan, hiburan instan, validasi instan lewat like dan komentar. Tapi sayangnya, hidup nggak bekerja secara instan.
Kita sering terjebak merasa produktif hanya karena sibuk merespons. Balas chat, like story, ikutin tren. Padahal, produktif yang sejati itu membangun sesuatu yang bertahan. Bukan cuma bereaksi terhadap apa yang datang menghampiri.
Makanya, manajemen waktu bukan soal menjejalkan lebih banyak aktivitas. Justru sebaliknya: ia soal mengurangi yang tidak penting.
Artikel Terkait
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama
Kendali Trump Tergelincir, Netanyahu Diduga Kendalikan Gedung Putih Lewat DOJ
Balochistan Berdarah Lagi: 47 Tewas dalam Serangan Terkoordinasi