Peringatan Satu Abad NU: Ribuan Warga Padati Istora untuk Rayakan Mengawal Indonesia Merdeka

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:48 WIB
Peringatan Satu Abad NU: Ribuan Warga Padati Istora untuk Rayakan Mengawal Indonesia Merdeka

Suasana di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1) lalu, terasa berbeda. Ribuan orang memadati arena untuk menyaksikan langsung peringatan spektakuler: Hari Lahir ke-100 Nahdlatul Ulama. Tema besar "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia" menggantung megah, bukan sekadar hiasan, tapi penanda arah perjalanan satu abad organisasi Islam terbesar di negeri ini.

Di hadapan para hadirin, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, menegaskan makna di balik tema tersebut. Menurutnya, ini adalah kelanjutan natural dari visi besar yang sudah digaungkan PBNU: "Merawat Jagat, Membangun Peradaban."

"Visi ini sejatinya adalah cita-cita awal berdirinya Jamiyyah NU," ujar Gus Yahya.

Ia juga menambahkan bahwa tema ini sengaja dipilih agar selaras dan berkesinambungan dengan peringatan 1 Abad NU versi Hijriah yang telah dirayakan sebelumnya. Jadi, semacam benang merah yang menyambung dua peristiwa bersejarah itu.

Acara yang berlangsung khidmat ini memang tak main-main. Dari deretan tamu undangan yang hadir, terlihat betapa momentumnya sangat penting. Tampak hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Agama Nasarudin Umar, hingga Menko PMK Pratikno. Kehadiran Sinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur, juga menyedot perhatian dan memberi nuansa tersendiri.

Secara keseluruhan, puncak Harlah ini jadi ajang silaturahmi akbar. Jajaran pengurus PBNU pusat berbaur dengan pengurus wilayah dan cabang yang datang dari seantero Indonesia. Banyak juga tokoh nasional lain yang turut menyemarakkan, menandakan pengaruh dan jaringan NU yang sangat luas.

Rangkaian acaranya sendiri padat dan sarat makna. Dimulai dengan Istighotsah Kubro dan Mahallul Qiyam yang menghanyutkan, dilanjut dengan doa rapat akbar yang menggetarkan. Namun begitu, semangat solidaritas tak terlupakan. Di tengah kemeriahan, ada penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatera, mengingatkan semua pada fungsi sosial organisasi.

Pada akhirnya, peringatan satu abad ini diharapkan bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, ia diinginkan menjadi simbol kebersamaan yang kokoh. Sebuah penguatan semangat persatuan bagi seluruh warga Nahdliyin, untuk melangkah lebih jauh lagi membangun peradaban.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler