Acara yang berlangsung khidmat ini memang tak main-main. Dari deretan tamu undangan yang hadir, terlihat betapa momentumnya sangat penting. Tampak hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Agama Nasarudin Umar, hingga Menko PMK Pratikno. Kehadiran Sinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur, juga menyedot perhatian dan memberi nuansa tersendiri.
Secara keseluruhan, puncak Harlah ini jadi ajang silaturahmi akbar. Jajaran pengurus PBNU pusat berbaur dengan pengurus wilayah dan cabang yang datang dari seantero Indonesia. Banyak juga tokoh nasional lain yang turut menyemarakkan, menandakan pengaruh dan jaringan NU yang sangat luas.
Rangkaian acaranya sendiri padat dan sarat makna. Dimulai dengan Istighotsah Kubro dan Mahallul Qiyam yang menghanyutkan, dilanjut dengan doa rapat akbar yang menggetarkan. Namun begitu, semangat solidaritas tak terlupakan. Di tengah kemeriahan, ada penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatera, mengingatkan semua pada fungsi sosial organisasi.
Pada akhirnya, peringatan satu abad ini diharapkan bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, ia diinginkan menjadi simbol kebersamaan yang kokoh. Sebuah penguatan semangat persatuan bagi seluruh warga Nahdliyin, untuk melangkah lebih jauh lagi membangun peradaban.
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi