Catatan Terakhir di Kantong Sang Komandan: Al-Quran dan Doa di Tengah Gencatan Senjata yang Retak

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:00 WIB
Catatan Terakhir di Kantong Sang Komandan: Al-Quran dan Doa di Tengah Gencatan Senjata yang Retak

Riwayat perjuangannya panjang. Menurut para sumber yang dekat, karirnya di jalur perlawanan telah berjalan sekitar empat dekade. Ia disebut-sebut sebagai guru bagi banyak mujahidin dalam hal fiqh, pernah memimpin Brigade Gaza, lalu mengepalai divisi manufaktur, sebelum akhirnya naik menjadi Kepala Operasi. Sebuah perjalanan karier militer yang lengkap, dihabiskan untuk "berperang melawan Israel", begitu menurut narasi yang beredar.

Kabar syahidnya langsung membanjiri media sosial. Banyak akun yang mengunggah foto-foto dirinya, menyematkan gelar-gelar kehormatan: "Syaikh Syahid", "Komandan Bersejarah", "Guru dari Para Guru". Ungkapan duka dan doa mengalir deras, berharap ia diterima di barisan para syuhada. Rahimahullah wa taqabbalahu minasy syuhada.

Di sisi lain, pembunuhan ini yang terjadi di masa gencatan kembali memantik kritik tajam. Sejumlah pengamat internasional menyoroti tindakan Israel yang dinilai terus berjalan dengan bebas, menyerang target-target di Gaza nyaris tanpa hambatan. Klaim "gencatan senjata" seolah kehilangan maknanya di lapangan.

Begitulah akhir kisah Raed Sa'ad. Seorang komandan yang juga penghafal Quran, yang hidup dan gugur di dalam konflik yang sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.


Halaman:

Komentar