Kalau dirunut, rangkaian peristiwanya memang bikin geleng-geleng. Sejumlah rumah pejabat dijarah. Ada Mercy merah yang sangat mencolok, munculnya kelompok-kelompok yang diduga provokator, serta penjarahan yang berlangsung cepat dan terkoordinasi rapi. Yang paling menyita perhatian, ada kesan pembiaran dari aparat terhadap aksi penjarah itu sendiri.
Lalu, bagaimana Project Multatuli mengungkap semua ini? Mereka mengumpulkan video dari media sosial dan CCTV warga, mewawancarai belasan orang, lalu menganalisisnya secara mendalam. Metodenya sistematis, tapi penyajiannya jauh dari kesan kaku.
Analisis lengkapnya bisa disimak dalam reportase berjudul:
"Memori 1998 Dalam Penjarahan Agustus: Hilangnya Polisi dan Misteri Mercy Merah dari Solo"
Isinya cukup mencengangkan. Ternyata, hasutan untuk menjarah rumah-rumah pejabat sudah beredar sejak 29 Agustus di media sosial. Namun, tidak ada upaya pencegahan yang berarti. Semua berjalan lancar. Polisi mendadak menghilang dari lokasi sebuah fenomena yang mengingatkan kita pada peristiwa kelam 1998 silam.
Silakan simak selengkapnya dalam laporan utama mereka. Intinya, ini bukan sekadar berita, tapi potret investigasi yang seharusnya menjadi pelajaran bersama.
Artikel Terkait
Banjir 2026: Ketika Kota-Kota Kita Terus Menenggelamkan Diri Sendiri
Gus Yaqut Penuhi Panggilan KPK, Kasus Kuota Haji 2023-2024 Menyandang Status Tersangka
Rapat Pleno PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya, Tegakkan Kembali Aturan Dasar
Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal