Logikanya sederhana: penjajahan modern tak butuh kekerasan. Cukup ciptakan ketergantungan. Buat para elite, dari pusat sampai daerah, bergantung pada "angpao". Mereka diberi remah-remah dari jarahan sumber daya alam agar tetap patuh dan jinak. Skema itu, klaim Sutoyo, sudah merasuk ke semua sendi kehidupan. Mulai dari ideologi, politik, sampai ke pertahanan dan keamanan.
Di sisi lain, rakyat biasa juga tak luput dari permainan ini. Menurut Sutoyo, masyarakat sengaja dilemahkan lewat adu domba dan hiruk-pikuk isu di media.
"Rakyat disesatkan melalui media," tegasnya. "Setiap hari bertarung dengan isu yang berubah per detik, sehingga lupa pada ancaman utama."
Lalu bagaimana dengan pemerintahan baru? Sutoyo mengaku sempat berharap pada Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap ada angin segar. Namun begitu, harapan itu sepertinya belum terwujud. Rekam jejak sebagai penerus Jokowi dinilainya membuat keadaan stagnan, bahkan memunculkan isu baru bahwa Prabowo disebut-sebut sebagai antek asing.
Pernyataannya ditutup dengan nada yang muram. Dominasi asing, menurutnya, justru kian leluasa. Sementara itu, para penguasa dan kita semua dianggapnya tetap dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Astaga, begitu leluasa mereka menguasai Nusantara," jelas Sutoyo dengan getir. "Sementara penguasa dan kita semua tetap limbung, tuli, dan buta."
Pernyataan yang keras. Sebuah gambaran suram yang tentu saja memantik perdebatan. Benarkah kita masih terjajah? Atau ini sekadar retorika politik belaka? Jawabannya, mungkin, terletak pada siapa yang Anda percayai.
Artikel Terkait
Gus Yaqut Penuhi Panggilan KPK, Kasus Kuota Haji 2023-2024 Menyandang Status Tersangka
Rapat Pleno PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya, Tegakkan Kembali Aturan Dasar
Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal
Gerbang Terbuka, Anjing-Anjing Galak Menerjang Dua Bocah di Bandung