Ekonom Yanuar Rizky Peringatkan Puncak Badai Ekonomi Akan Hantam Indonesia September 2026

- Jumat, 30 Januari 2026 | 10:00 WIB
Ekonom Yanuar Rizky Peringatkan Puncak Badai Ekonomi Akan Hantam Indonesia September 2026

Dalam sebuah wawancara yang cukup menggelisahkan, ekonom senior Yanuar Rizky tak sungkan menyuarakan keprihatinannya. Ia bicara blak-blakan soal kondisi ekonomi yang dinilainya kian memburuk, bertolak belakang dengan klaim-klaim optimistis yang sering kita dengar. Wawancara itu tayang di kanal YouTube "Abraham Samad Speak Up" pada Kamis lalu, 29 Januari 2026.

Daya Beli Rontok, Tercermin dari Pajak

Yanuar langsung menohok dengan data. Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Menurutnya, ini adalah sinyal yang jelas.

"Tren kita lagi mengalami penurunan PPN, penurunan PPH. Artinya dari data makro ini menunjukkan daya beli yang turun," ungkap Yanuar.

Ia lantas membeberkan fakta lain. Konsumsi rumah tangga, yang selama ini jadi penyangga utama perekonomian dengan kontribusi 54 persen, ternyata sedang melemah. Lalu, dari mana angka pertumbuhan 5 persen itu datang? Yanuar menyoroti peran Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan belanja pemerintah yang salah satunya untuk pembelian alutsista sebagai penggerak utamanya.

Tabungan Menipis, Pekerja Tanpa Upah Membengkak

Kondisi riil di lapangan makin suram. Data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkap hal yang memprihatinkan: rata-rata saldo rekening masyarakat dengan tabungan di bawah Rp100 juta anjlok dari Rp21 juta menjadi Rp19 juta.

"Orang yang punya tabungan di bawah Rp100 juta, rata-rata saldo hariannya dulu tuh Rp21 juta. Turun, Bang, 19. Artinya makan tabungan Rp2 juta. Ini sudah terjadi," kata Yanuar dengan nada getir.

Belum cukup sampai di situ. Ada fenomena lain yang justru lebih menghawatirkan: sebanyak 18 juta orang tercatat bekerja pada keluarga tanpa digaji. Mereka ini adalah korban PHK yang terpaksa pulang kampung dan membantu di sektor pertanian, tanpa penghasilan yang jelas.

Utang Menjadi Pelarian, Kredit Macet Meroket

Di sisi lain, gelagat masyarakat yang terdesak mulai terlihat dari pola utang. Fenomena pinjaman online (pinjol) yang macet sudah merajalela sejak 2023. Ini menunjukkan kalau masyarakat kelas menengah ke bawah sudah menjadikan utang sebagai cara bertahan hidup.

"Masyarakat kita di bawah sudah ngambil pinjol untuk konsumsinya dan dia tidak bisa bayar sehingga jadi kredit macet," jelasnya.

Kalangan menengah ke atas pun tak lebih baik. Non-Performing Loan (NPL) atau kredit macet pada kartu kredit melonjak hampir dua kali lipat, mencapai 1,75 persen. Transaksi pakai kartu kredit memang naik, tapi yang gagal bayar juga ikut merangkak naik.

UMKM Tercekik, Produksi Terganggu

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang kerap disebut sebagai tulang punggung ekonomi, juga terpuruk. Permintaan kredit dari UMKM terus merosot sejak 2022. Begitu pula dengan kredit modal kerja yang vital untuk operasional produksi.

"Artinya proses produksi terganggu kalau kita baca secara makro," ujar Yanuar, yang juga menyoroti dampak perlambatan ekonomi China terhadap Indonesia.

Kriminalitas Jalanan: Alarm yang Berbunyi Keras

Yanuar lalu mengingatkan satu indikator krisis yang paling kasat mata: kriminalitas. Ia mengutip ucapan seorang jenderal di era SBY, bahwa indikator krisis bukanlah "copet di bursa saham", melainkan "copet di pasar".

"Sekarang orang dijambret, jambretnya dikejar, jambretnya mati. Orang dipasang batu lancip di tol bandara. Ini indikator kriminalitas di jalanan meningkat," katanya memperingatkan dengan nada tegas.

Puncak Badai Diprediksi September 2026

Mengutip almarhum ekonom Faisal Basri, Yanuar punya prediksi yang suram. Ia memperkirakan puncak krisis akan terjadi pada kuartal ketiga tahun 2026, sekitar bulan September. Saat itulah krisis ekonomi diperkirakan akan bertabrakan dengan potensi konflik politik.

"Kecemasan yang memuncak ini berbahaya," tegasnya.

Pesan Keras untuk Istana

Terakhir, Yanuar menyampaikan peringatan khusus untuk Presiden Prabowo Subianto. Ia membandingkan situasi Indonesia sekarang dengan krisis Amerika Latin tahun 1982, saat Meksiko gagal bayar utang. Tekanan fiskal kita sedang besar: penerimaan negara turun, sementara utang yang jatuh tempo mencapai angka fantastis, Rp850 triliun.

"Pak Presiden, tolong jangan terlepas konektivitas Bapak dengan realitas. Kalau Bapak terlepas dari konektivitas ini, tanpa Bapak sadari, tahu-tahu ngamuk sendiri, amuk massa," peringat Yanuar.

Pesan penutupnya sederhana tapi mendesak: pemerintah harus jujur melihat detail penderitaan rakyat, bukan sekadar bermain dengan angka-angka besar yang terlihat indah di atas kertas.

"Jangan mengatakan bahwa ekonomi baik-baik saja. Real kehidupan realnya untuk orang yang betul-betul menghadapi real sehari-hari," pungkasnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar