China Akhirnya Buka Keran untuk Chip AI Nvidia, Tarif 25% Jadi Harga Kompromi

- Jumat, 30 Januari 2026 | 09:20 WIB
China Akhirnya Buka Keran untuk Chip AI Nvidia, Tarif 25% Jadi Harga Kompromi

Pintu yang lama terkunci, akhirnya terbuka juga. Pemerintah China, setelah bertahun-tahun bersikap keras, kini mengizinkan masuknya chip AI canggih buatan Nvidia dari Amerika Serikat. Ini bukan sekadar izin impor biasa, melainkan sebuah sinyal penting dalam ketegangan teknologi dua negara adidaya itu.

Perubahan sikap Beijing ini cukup mengejutkan. Bayangkan, persaingan mereka dengan AS soal penguasaan teknologi global sedang panas-panasnya. AS sendiri, sejak era Biden hingga berlanjut di masa Trump, getol membatasi ekspor chip mutakhir dan peralatan pembuat semikonduktor ke China. Tekanan itu begitu kuat.

Sebagai respons, China punya mimpi besar: swasembada. Mereka mendorong perusahaan lokal untuk lepas dari ketergantungan pada produk AS dan beralih ke buatan dalam negeri. Sayangnya, imbauan itu tak semudah teori. Industri AI di sana tumbuh pesat, dan kebutuhan akan chip berperforma tinggi ternyata tak bisa ditawar-tawar. Ambisi mandiri harus berhadapan dengan realitas yang mendesak.

Nah, titik beloknya muncul ketika Presiden Donald Trump memutuskan untuk melonggarkan keran ekspor. Chip Nvidia H200 boleh masuk ke China, tapi dengan catatan: ada tarif tambahan 25% per unitnya. Kebijakan yang awalnya disambut dengan kecurigaan itu, rupanya kini dilihat Beijing dengan kacamata yang lebih pragmatis.

Menurut laporan Reuters, otoritas China telah memberi lampu hijau untuk impor perdana chip H200 itu. Persetujuan yang tercatat pada Rabu, 28 Januari 2026, ini jelas sebuah kompromi. Mereka mencoba menyeimbangkan antara cita-cita mandiri teknologi dengan desakan kebutuhan industri yang nyata.

Ratusan ribu unit chip H200 akan dikirim dalam tahap awal ini. Kabarnya, tiga perusahaan internet raksasa di China akan menjadi yang pertama mendapat jatah. Siapa mereka? Itu masih jadi rahasia. Yang pasti, antrian perusahaan teknologi lain yang menginginkan izin serupa sudah mengular.

Keputusan ini kebetulan sekali waktunya. Ia bertepatan dengan kunjungan CEO Nvidia, Jensen Huang, ke China pada pekan yang sama. Meski demikian, suasana tetap senyap. Baik Nvidia maupun kementerian terkait di China memilih diam, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan soal kesepakatan ini.

Soal kecanggihan, H200 ini memang jagoan. Ia adalah salah satu prosesor AI terbaik Nvidia yang beredar saat ini, cuma selangkah di bawah seri paling top. Dulu, chip ini termasuk dalam daftar hitam yang dilarang masuk China. Beijing cuma diizinkan mengimpor varian H20 yang kemampuannya lebih terbatas. Jadi, persetujuan untuk H200 adalah lompatan yang signifikan.

Langkah Beijing ini menunjukkan prioritas yang berubah. Kebutuhan perusahaan teknologi dalam negeri, yang sudah menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun pusat data dan mengembangkan AI, kini didahulukan. Tanpa pasokan chip mumpuni, mustahil mereka bisa bersaing dengan raksasa seperti OpenAI atau pemain teknologi AS lainnya di panggung global.

Memang, beberapa perusahaan China seperti Huawei sudah punya chip AI buatan sendiri. Tapi, menurut sejumlah analis, performanya masih belum sanggup menyaingi H200. Jarak itu yang mau tak mau memaksa China untuk berkompromi. Di tengah rivalitas geopolitik yang makin memanas, kebutuhan praktis kadang harus mengalahkan kebanggaan nasional. Sebuah pilihan yang sulit, tapi mungkin, diperlukan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar