Secara total, peserta yang gugur karena sakit mencapai enam orang. Jumlah itu, kata dia, masih mungkin bertambah seiring berjalannya proses.
Harapannya sih semua bisa berangkat. Tapi realitanya berbeda. “Karena kita ingin pelaksanaan haji 2026 ini menghasilkan pelayanan yang maksimal, khususnya untuk jemaah haji,” tegas Suci.
Pesan dari pimpinan pun jelas. “Tidak ada istilah petugas haji yang nebeng untuk naik haji. Karena kita memfokuskan pada pelayanan maksimal.”
Pandangan serupa datang dari Wadandiklat PPIH Arab Saudi, Kolonel (Purn) Kurniawan Muftiono, yang hadir dalam kesempatan sama. Ia menegaskan bahwa kurikulum diklat dirancang untuk satu tujuan utama.
“Kurikulum itu harapannya untuk mencapai tujuan utama,” kata Muftiono.
Tujuannya apa? Membentuk petugas yang disiplin, punya integritas, dan paling penting: mampu melayani jemaah dengan baik. Kalau standar itu tak terpenuhi, ya itu jadi indikator kegagalan.
“Salah satunya karena faktor absensi, ketidakhadiran dalam pelajaran, ketidakdisiplinan, tidak memenuhi syarat administrasi, serta faktor kesehatan,” ujarnya merinci.
Masih ada faktor lain sebenarnya. Hanya saja, Muftiono memilih tak menjabarkan semuanya. “Banyak sekali hal semacam itu yang tentu saja tidak bisa saya rinci satu per satu kepada publik, tetapi itu menjadi ranah kami sebagai pengelola pendidikan dan pelatihan ini,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Teman Seangkatan Jokowi di UGM Buka Suara: Ijazahnya Sudah Jelas Asli
Sheet Pile Retak, Warga Jembatan Gantung Terendam dan Frustrasi Menunggu Perbaikan
Dedi Mulyadi Tersentak, Tukang Es Viral Bohong Soal Nasibnya
Mengapa Rusdi Mappasessu Tinggalkan Kursi DPR untuk PSI yang Nihil Kursi?