Di sisi lain, bukan hanya IRGC yang jadi sasaran. Pada hari yang sama, Dewan Eropa mengumumkan paket sanksi terpisah. Sasaran mereka adalah 15 individu dan enam entitas yang dituding bertanggung jawab atas pelanggaran HAM serius selama penindasan protes.
Dua nama yang mencolok dalam daftar itu adalah Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni dan Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad.
Gelombang kecaman internasional terhadap Iran memang kian menguat. Pemicunya adalah cara otoritas menggunakan kekerasan untuk meredam aksi unjuk rasa besar-besaran yang pecah akhir bulan lalu. Kemarahan publik awalnya meledak karena inflasi yang meroket dan persoalan sosial-ekonomi yang mencekik.
Soal korban jiwa, angkanya simpang siur dan jadi bahan perdebatan sengit. Otoritas Iran mengonfirmasi 3.117 kematian termasuk warga sipil dan aparat. Mereka berkeras kerusuhan ini dipicu oleh pihak asing, terutama Israel dan AS.
Namun, versi lain datang dari kelompok aktivis. Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan angka yang jauh lebih tinggi: sedikitnya 6.373 orang tewas, dengan 5.993 di antaranya adalah pengunjuk rasa.
Kedua klaim itu, sayangnya, sulit diverifikasi secara independen di tengah situasi yang tertutup.
Artikel Terkait
Toren Air Gratis untuk Warga Jakarta yang Kesulitan Air Bersih
Lemkapi Bongkar Upaya Adu Domba Kapolri dan Presiden Prabowo
Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Picu Ancaman Posisi Kapolri
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Tahuna, Getaran Terasa hingga Daratan