Di desa-desa, ada satu cerita yang terus berulang: kesuksesan seorang anak seringkali dilihat dari seragam cokelatnya. Menjadi PNS dianggap sebagai puncak segalanya. Memang, keinginan orang tua untuk menjamin masa depan anak itu luhur. Tapi, di balik itu, ada beban gengsi dan ekspektasi sosial yang berat. Beban itu bisa jadi penjara mental bagi anak muda.
Masyarakat kota mungkin lebih terbiasa dengan bisnis keluarga atau kerja di perusahaan swasta. Namun di pedesaan, pandangannya seringkali berbeda. PNS dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju hidup yang stabil. Yang ironis, dorongan ini tak selalu murni untuk kesejahteraan anak. Banyak juga yang terdorong oleh keinginan menjaga muka, agar keluarga tetap dipandang baik oleh tetangga.
Bagi orang tua yang merasa terpandang, ada ketakutan tersendiri. Mereka khawatir strata sosial anaknya akan turun. Akibatnya, anak pun didorong bahkan kadang dipaksa untuk meniti jalan yang dianggap "aman" dan "terhormat". Minat dan bakat anak? Seringkali itu jadi nomor dua.
Dampak Psikologis: Saat Gagal jadi "Pilihan"
Standar sukses yang kaku ini berbahaya bagi kesehatan mental. Bayangkan, saat seorang anak gagal dalam seleksi CPNS. Yang dirasakan bukan cuma kegagalan pribadi. Ada beban lain yang lebih berat: rasa telah mengecewakan seluruh keluarga.
Tanpa dukungan yang tepat, tekanan ini bisa berujung pada stres berat. Bahkan, tak jarang memicu perilaku destruktif sebagai pelampiasan. Orang tua kerap berdalih, "Ini semua demi masa depanmu!". Padahal, dunia kerja sekarang sudah berubah total.
Memang, jadi PNS itu menawarkan kenyamanan. Gaji tetap, aturannya jelas, dan relatif aman dari guncangan ekonomi. Tapi, di sisi lain, zona nyaman itu punya risikonya sendiri. Ia bisa membatasi perkembangan diri karena minimnya tantangan untuk berinovasi.
Artikel Terkait
Di Balik Sorak-Sorai Akhir Tahun: Saatnya Menyepi dan Merapikan Batin
Gempa Dangkal Guncang Bandung dan Sumedang Pagi Ini
Andi Azwan Klaim Rekaman Rahasia Ungkap Eggi Sudjana Minta Maaf ke Jokowi
Ketika Anak Tak Merasa Diterima: Luka Batin yang Tumbuh dalam Diam