Pengamat Soroti Distribusi dan Daya Beli sebagai Kunci Stabilitas Harga Pangan Jelang Lebaran

- Senin, 16 Maret 2026 | 18:15 WIB
Pengamat Soroti Distribusi dan Daya Beli sebagai Kunci Stabilitas Harga Pangan Jelang Lebaran

Menjelang Lebaran, harga bahan pangan memang kerap merangkak naik. Tapi, menurut sejumlah pengamat, masalahnya nggak cuma soal stok barang ada atau tidak ada. Ada dua hal lain yang justru lebih krusial: distribusi yang tersendat dan daya beli masyarakat yang terbatas.

Khudori, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), punya pandangan menarik. Menurutnya, pemerintah selama ini terlalu fokus pada urusan ketersediaan. Padahal, fokus tunggal itu belum cukup untuk benar-benar menstabilkan harga di pasar.

“Ketersediaan itu nggak banyak manfaatnya kalau pangan tidak terdistribusi merata ke semua wilayah dan harganya tidak terjangkau. Akhirnya, ketersediaan ya berhenti di ketersediaan saja,” ujar Khudori, Senin (16/3/2026).

Persoalan distribusi ini makin pelik karena karakter komoditas pangan kita yang musiman dan produksinya cenderung terkonsentrasi di beberapa daerah tertentu. Makanya, butuh sistem logistik yang andal. Sistem ini penting banget sebagai alat intervensi pemerintah saat mekanisme pasar mulai gagal berfungsi dengan baik.

Namun begitu, ada masalah lain yang mengganjal: cadangan pemerintah terbatas. Saat ini, hanya beras yang punya cadangan memadai. Untuk komoditas lain? Hampir tidak ada, atau jumlahnya sangat sedikit. “Kalau pun ada, jumlahnya kecil,” lanjut Khudori. Ini jadi titik lemah saat gejolak harga terjadi.

Regulasi harga yang ada juga dinilai belum efektif. Di lapangan, masih banyak komoditas yang dijual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Secara hukum pun, aturan mainnya punya keterbatasan karena lebih mengikat pemerintah, bukan pelaku usaha secara langsung.

Realita di Lapangan: Harga Acuan Terlampaui

Data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan, situasi harga minggu ini relatif stagnan. Tapi, tetap saja sejumlah barang dijual di atas patokan.

Beras medium nasional, contohnya, masih bertengger di atas HET. Untuk beras premium, di zona I mungkin masih aman, tapi di zona II dan III sudah banyak yang melanggar batas. Bukan cuma beras. Minyakita, gula, telur ayam, daging ayam, sampai kedelai juga tercatat harganya di atas acuan pemerintah. Harga gula konsumsi bahkan sudah berbulan-bulan membandel.

Yang menarik perhatian Khudori adalah harga daging kerbau. Komoditas ini, katanya, sudah bertahun-tahun harganya di atas acuan, sejak 2017 lalu. Harga impornya dari India jauh melampaui patokan, terutama di zona II dan III. Sayangnya, belum ada langkah serius untuk menanganinya. Intervensi justru lebih banyak diarahkan ke daging sapi.

“Pemerintah demikian intens mengintervensi harga daging sapi, bahkan sampai empat level. Ada diskriminasi luar biasa antara daging sapi dengan daging kerbau. Ini tak adil,” tegasnya.

Secara historis, tekanan harga pangan di bulan Ramadan emang sebuah pola yang terus berulang. Dua dekade terakhir, inflasi di periode ini sebagian besar disumbang oleh kenaikan harga pangan. “Ini menandakan berbagai upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil sepadan,” tutur Khudori.

Maka, ia menilai perlu ada perbaikan strategi. Stabilisasi harga jelang Lebaran tidak bisa hanya mengandalkan jaminan stok. Pemerintah harus memastikan distribusi lancar dan harga tetap terjangkau sampai hari raya usai. Itu kuncinya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar