Seragam Cokelat dan Penjara Gengsi: Saat Cita-cita Anak Dikalahkan Ekspektasi Desa

- Jumat, 30 Januari 2026 | 05:36 WIB
Seragam Cokelat dan Penjara Gengsi: Saat Cita-cita Anak Dikalahkan Ekspektasi Desa

Sebaliknya, lihatlah dunia di luar sana. Dunia bisnis atau industri kreatif, misalnya. Peluangnya jauh lebih luas. Memang, risikonya besar. Bangkrut selalu mengintai, persaingannya ketat. Tapi, potensi kesejahteraannya bisa melampaui gaji pegawai tetap berkali-kali lipat. Apalagi di era digital sekarang. Seorang anak muda di pelosok desa, dengan akses internet dan kreativitas, bisa menjangkau pasar global. Asal diberi ruang.

Mendukung, bukan Menuntut

Mungkin sudah waktunya kita mengubah pola pikir. Tugas orang tua seharusnya bukan memaksakan definisi sukses mereka. Sukses itu bukan produk massal yang seragam. Sukses adalah ketika seseorang bisa berjuang di bidang yang ia kuasai dan cintai.

Peran orang tua sebaiknya bergeser. Dari yang semula jadi "penentu arah" mutlak, menjadi pendukung dan pembimbing. Biarkan anak mencari "jalan ninjanya" sendiri. Percayalah, masa depan yang dibangun dari rasa bahagia dan kemandirian, nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar status sosial yang dipaksakan.

Literasi karier jadi kunci di sini. Orang tua perlu paham bahwa zaman sudah berubah drastis. Dalam ekonomi digital, struktur pekerjaan pun sudah berbeda. Nilai ekonomi tidak lagi cuma berpusat pada administrasi negara, tapi juga pada kreativitas, penguasaan teknologi, dan kemampuan memecahkan masalah.

Jadi, menghargai pilihan anak untuk jadi konten kreator, ahli IT, atau pengusaha muda, bukanlah kemunduran. Itu justru adaptasi. Itu langkah cerdas menyambut ekosistem kerja masa depan.

Dengan memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi minatnya, orang tua sebenarnya sedang membekali mereka dengan sesuatu yang lebih berharga: ketahanan dan kemampuan adaptasi. Dan itu, jauh lebih berarti daripada sekadar jaminan slip gaji setiap bulan.


Halaman:

Komentar