Feri Amsari Soroti Pola Rusak Tata Negara yang Terus Berlanjut

- Kamis, 29 Januari 2026 | 12:00 WIB
Feri Amsari Soroti Pola Rusak Tata Negara yang Terus Berlanjut

“Saya bercermin pada seleksi hakim konstitusi dan deputi Bank Indonesia,” katanya.

“Di sana terlihat jelas bagaimana prosedur dilewati, etika diabaikan, dan kepentingan kekuasaan lebih dominan.”

Implikasinya serius. Kalau lembaga strategis negara diisi lewat proses yang cacat, kepercayaan publik pasti terus tergerus. Dan itu, dalam pandangannya, adalah jalan menuju kehancuran institusional yang lebih parah. Situasinya memang suram, tapi Feri tak menyerah pada pesimisme.

Di sisi lain, ia melihat masih ada harapan. Kuncinya ada pada persatuan. Masyarakat sipil, akademisi, dan seluruh elemen bangsa harus bersatu untuk menyelamatkan demokrasi. Diam bukan pilihan.

“Indonesia harus bersatu. Kita tidak boleh diam menunggu kehancuran serius terjadi,” serunya. “Kesadaran publik dan keberanian bersuara adalah kunci.”

Peringatannya jelas: tanpa kontrol publik yang kuat, kekuasaan akan liar. Ia akan melampaui batas dan menggerogoti konstitusi perlahan-lahan.

“Kalau ini dibiarkan, negara akan berjalan tanpa rambu. Dan ketika hukum runtuh, yang tersisa hanyalah kekuasaan telanjang,” pungkas Feri.


Halaman:

Komentar