Ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran kembali memanas. Kali ini, sasarannya adalah Pulau Kharg, pusat ekspor minyak vital bagi negara tersebut. Tak cuma itu, Trump juga mendesak sekutu-sekutu Amerika untuk segera mengirimkan kapal perang mereka. Tujuannya jelas: mengamankan Selat Hormuz, jalur air sempit yang jadi urat nadi pasokan energi global.
Dalam wawancara dengan NBC News, Minggu lalu, Trump terlihat sangat percaya diri. Dia menyebut serangan AS sebelumnya telah "benar-benar menghancurkan" sebagian besar fasilitas di pulau itu. Namun, ancamannya tidak berhenti di situ. Ada nada lain dalam pernyataannya, yang terdengar lebih seperti tantangan.
"Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang," ujar Trump.
Pernyataan itu jelas menandai sebuah peningkatan. Sebelumnya, pemerintah AS selalu bersikeras bahwa mereka hanya menargetkan situs-situs militer di Kharg. Kini, nada bicaranya berubah, lebih provokatif dan terbuka.
Di sisi lain, respons dari Tehran datang dengan cepat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung bersuara lantang. Dia menegaskan bahwa Iran akan membalas setiap serangan yang menyentuh fasilitas energinya. Ancaman itu bukan main-main.
Menurut sejumlah saksi dan analisis, Araghchi bahkan memberikan rincian yang cukup mengejutkan. Dalam wawancara dengan saluran MS NOW, dia mengklaim serangan AS diluncurkan dari dua titik di Uni Emirat Arab: Ras Al-Khaimah dan suatu lokasi yang disebutnya 'sangat dekat dengan Dubai'.
"Ini tindakan yang berbahaya," tegas Araghchi. "Kami akan berusaha berhati-hati agar tidak menyerang daerah berpenduduk di sana."
Klaim tersebut, tentu saja, menimbulkan gelombang pertanyaan. Namun, Komando Pusat AS, yang membawahi operasi militer di Timur Tengah, memilih diam. Mereka menolak berkomentar soal rincian yang disebutkan oleh pejabat Iran itu.
Situasinya kini seperti bara dalam sekam. Ancaman terbuka dari Washington, diimbangi janji balasan dari Tehran, membuat ketegangan di kawasan itu makin terasa. Apa yang awalnya seperti operasi terbatas, kini berpotensi merambah ke konflik yang lebih luas dan berisiko.
Artikel Terkait
Pentagon Ungkap Biaya Perang Lawan Iran Tembus 25 Miliar Dolar AS
Bandara APT Pranoto Samarinda Jajaki Kerja Sama dengan AirAsia untuk Buka Rute Baru
Kimmich Syok: PSG Hajar Bayern 5-4 di Semifinal Liga Champions
Haji 2026 Tetap Berjalan, Menteri Jamin Keamanan Jemaah di Tengah Ketegangan Timur Tengah