Pemerintah Pastikan Stok Beras Nasional Melimpah, Capai 5,3 Juta Ton Usai Raih Swasembada Pangan

- Minggu, 14 Juni 2026 | 08:20 WIB
Pemerintah Pastikan Stok Beras Nasional Melimpah, Capai 5,3 Juta Ton Usai Raih Swasembada Pangan

Pemerintah memastikan tidak ada kelangkaan beras di dalam negeri, dengan stok nasional yang dinilai sangat kuat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ketersediaan beras melimpah sebagai dampak positif dari pencapaian swasembada pangan yang diraih pada tahun 2025. Untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi, ia telah meminta Satuan Tugas Pangan Kepolisian Republik Indonesia (Satgas Pangan Polri) turun ke lapangan melakukan pemeriksaan secara langsung.

“Beras kita melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka,” ujar Amran dalam pernyataannya, Minggu (14/6/2026). Ia menambahkan bahwa seluruh gudang Bulog saat ini penuh dengan beras, dengan total stok mencapai 5,3 juta ton. “Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka,” tuturnya.

Keyakinan pemerintah terhadap kecukupan pasokan beras juga didukung oleh data internasional. Laporan Rice Outlook edisi Mei 2026 yang dirilis oleh United States Department of Agriculture (USDA) mencatat bahwa produksi beras global pada periode 2025-2026 meningkat sebesar 1,5 juta ton, dari 541,3 juta ton pada April menjadi 542,8 juta ton. Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan perubahan angka produksi beras tertinggi, bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam.

Dari keempat negara tersebut, Indonesia menjadi satu-satunya yang memiliki total produksi beras tahunan di atas 30 juta ton. Sebagai perbandingan, Nigeria hanya mencapai 5,9 juta ton, Pantai Gading 1,7 juta ton, dan Vietnam 26,2 juta ton. Capaian ini memperkuat klaim pemerintah bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras.

“Jadi kepada teman-teman pengusaha, jangan mempermainkan harga di lapangan. Kalau dulu, stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada,” kata Amran. Ia juga menegaskan komitmennya untuk menindak tegas pelaku yang mencoba memanipulasi harga. “Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak,” ujarnya.

Sementara itu, Amran mendorong Perum Bulog untuk meningkatkan penyaluran beras premium, tidak hanya terbatas pada beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang merupakan beras medium. “Justru itu Bulog harus buat beras premium lebih banyak,” ujarnya. Arahan ini sejalan dengan hasil Rapat Koordinasi Ketersediaan dan Stabilisasi Harga Beras di Ritel Modern yang digelar Bapanas secara daring pada 5 Juni 2026. Dalam rapat tersebut, Bulog diminta mempercepat intervensi pasar melalui penyaluran beras medium dan premium guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengakui adanya keterbatasan pasokan beras premium di ritel modern. Namun, ia menekankan bahwa kondisi tersebut bukanlah kelangkaan. “Bukan langka. Saya kira kan kami juga kunjungan ke lapangan, melihat di ritel modern itu masih ada, (memang) tidak banyak tapi ada. Ini kesempatan Bulog masuk. Bulog kan punya Befood, punya Punokawan, Setra Ramos. Nah Bulog mengisi kekurangan suplai, jadi bukan langka. Ini bisa diisi oleh Bulog,” tuturnya.

Berdasarkan laporan yang diterima Bapanas per 12 Juni, stok beras komersial di Bulog tercatat sebesar 11,4 ribu ton. Realisasi pengadaan setara beras untuk stok komersial terus berjalan dan telah mencapai 45,5 ribu ton dari total target pengadaan sebesar 3,1 juta ton. Pemerintah optimistis langkah-langkah ini mampu menjaga ketersediaan pasokan dan menekan potensi gejolak harga di pasar.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar