Skoliosis Lebih Berisiko Memburuk pada Perempuan, Kenali Tandanya Sejak Remaja

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:35 WIB
Skoliosis Lebih Berisiko Memburuk pada Perempuan, Kenali Tandanya Sejak Remaja

Skoliosis, kelengkungan tulang belakang yang tidak normal, sering kali dianggap sebagai kondisi yang bisa menyerang siapa saja. Namun, pada remaja perempuan, risiko perkembangan kelengkungan yang semakin signifikan perlu mendapat perhatian khusus. Data dari Scoliosis Research Society menunjukkan bahwa skoliosis idiopatik remaja, jenis yang paling umum, lebih banyak ditemukan pada anak perempuan dan cenderung berkembang menjadi lebih berat dibandingkan anak laki-laki.

Yang membuat kondisi ini sering terlewat adalah karena pada tahap awal, skoliosis biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Perubahan pada tubuh bisa terjadi tanpa disadari hingga bentuk bahu, pinggang, atau punggung mulai terlihat tidak simetris. Padahal, deteksi dini sangat menentukan penanganan selanjutnya.

Mengapa Perempuan Lebih Berisiko?

Salah satu faktor kunci adalah masa pertumbuhan cepat atau growth spurt. Pada anak perempuan, fase ini terjadi lebih awal, biasanya bersamaan dengan pubertas. Tulang belakang yang masih dalam masa pertumbuhan memiliki peluang lebih besar untuk mengalami perubahan pada kurva yang sudah ada. Dokter tidak hanya melihat besarnya kelengkungan, tetapi juga usia, kematangan tulang, kecepatan pertumbuhan, dan apakah anak sudah mengalami menstruasi pertama. Semakin banyak sisa pertumbuhan tulang, semakin besar perhatian yang diperlukan untuk memantau kemungkinan perubahan kurva.

Skoliosis Bisa Berkembang Diam-Diam

Banyak orang mengira masalah tulang belakang pasti disertai nyeri punggung. Pada remaja dengan skoliosis, nyeri tidak selalu muncul. Yang lebih sering terjadi adalah perubahan penampilan fisik, seperti satu bahu lebih tinggi, tulang belikat menonjol, pinggang tidak seimbang, atau tubuh condong ke satu sisi. Saat membungkuk, salah satu sisi punggung atau tulang rusuk bisa terlihat lebih tinggi. Gejala-gejala ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal skoliosis.

Spine Clinic Family Holistic menyebutkan bahwa ciri-ciri skoliosis pada tahap awal bisa sangat samar, sehingga mudah diabaikan sebagai perbedaan postur biasa. Karena itu, orang tua perlu jeli mengamati perubahan postur anak perempuan, terutama menjelang dan selama pubertas.

Masa Remaja: Periode Kritis

Pertumbuhan tubuh remaja berlangsung cepat, dan pada periode inilah kurva skoliosis tertentu dapat berkembang. Scoliosis Research Society merekomendasikan pemeriksaan skoliosis pada anak perempuan sekitar usia 10 hingga 12 tahun, sedangkan anak laki-laki sekitar 12 hingga 13 tahun. Pemeriksaan dini bukan berarti setiap perubahan postur adalah skoliosis, tetapi memberikan kesempatan untuk mengetahui kondisi tulang belakang sebelum kelengkungan menjadi lebih serius. Pendekatan penanganan skoliosis tidak hanya ditentukan oleh ada tidaknya kelengkungan, tetapi juga besar kurva, usia, kematangan tulang, pola kurva, dan potensi perkembangannya.

Jangan Menunggu Tanda yang Jelas

Sering kali orang baru memeriksakan diri ketika perubahan bentuk tubuh sudah terlihat jelas. Padahal, skoliosis ringan bisa sangat halus. Misalnya, tali baju sering turun di satu sisi, ujung baju tidak sejajar, atau posisi bahu dan pinggang sedikit berbeda saat bercermin. Tanda-tanda ini tidak otomatis berarti skoliosis, tetapi bisa menjadi alasan untuk konsultasi lebih lanjut.

Evaluasi biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik, seperti Adam's Forward Bend Test, yaitu pasien membungkuk ke depan untuk melihat asimetri punggung. Jika ada indikasi, dokter akan meminta foto X-ray untuk mengukur kelengkungan secara akurat.

Deteksi Dini Memberi Lebih Banyak Pilihan

Mengetahui kondisi tulang belakang lebih awal bukan berarti harus langsung ditindak. Setiap kasus skoliosis berbeda. Pada sebagian orang, kurva tetap stabil dan hanya perlu dipantau. Pada kondisi lain, terutama jika masih dalam masa pertumbuhan dan kurva cenderung memburuk, dokter dapat mempertimbangkan penanganan sesuai hasil pemeriksaan. Tujuan deteksi dini bukan untuk membuat khawatir, melainkan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan memantau perkembangannya secara objektif.

Bagi perempuan, perhatian terhadap kesehatan tulang belakang sebaiknya dimulai sejak masa pertumbuhan, bukan saat kelengkungan sudah terlihat jelas. Perubahan kecil pada bahu, pinggang, atau punggung yang tampak sepele bisa menjadi alasan sederhana untuk lebih peduli pada kesehatan tulang belakang sejak dini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags