Saudi Tolak Jadi Pangkalan Serangan AS ke Iran, MBS dan Pezeshkian Perkuat Diplomasi

- Kamis, 29 Januari 2026 | 08:30 WIB
Saudi Tolak Jadi Pangkalan Serangan AS ke Iran, MBS dan Pezeshkian Perkuat Diplomasi

Panggilan telepon penting terjadi Kamis lalu antara dua pemimpin Timur Tengah. Di satu sisi, ada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. Di sisi lain, Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian. Latar belakangnya? Ancaman militer AS yang kian panas.

Menurut laporan Saudi Gazette yang mengutip kantor berita resmi SPA, MBS sang penguasa de facto Saudi menegaskan satu hal dengan jelas. Kerajaannya bakal menghormati penuh kedaulatan Iran. Bahkan lebih dari itu, Arab Saudi menolak keras wilayah udaranya, apalagi daratnya, dipakai untuk aksi militer apapun yang menargetkan negara Republik Islam itu. Sumber serangannya dari mana pun, sikapnya tetap sama.

“Saya tegaskan kembali sikap Saudi dalam menghormati kedaulatan Iran,” begitu kira-kira penegasan MBS, seperti dikutip dari laporan itu.

Dalam percakapan yang cukup hangat itu, MBS juga menekankan komitmennya pada jalan diplomasi. Dialog, katanya, adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan perselisihan dan menciptakan stabilitas di kawasan yang sudah terlalu sering dilanda gejolak.

Dari seberang teluk, Presiden Pezeshkian memberi gambaran tentang situasi dalam negerinya. Dia meng-update perkembangan terbaru, termasuk bagaimana pemerintahannya menghadapi beragam tantangan dan pembicaraan seputar program nuklir Iran. Rupanya, sikap tegas Saudi itu mendapat sambutan hangat.

Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas posisi Riyadh. Dia juga memuji inisiatif-inisiatif sang Putra Mahkota yang dinilainya mendorong keamanan regional. Sebelum Saudi, Uni Emirat Arab juga sudah bersuara lantang. Mereka menolak wilayahnya digunakan untuk logistik atau serangan militer ke Iran.

Ancaman dari Washington

Semua ini terjadi di tengah rentetan ancaman dari Gedung Putih. Awalnya, Presiden Donald Trump mengancam akan bertindak jika Iran mengeksekusi massal demonstran. Ancaman itu mereda sejenak setelah dia bilang eksekusi massal "tak ada lagi". Tapi beberapa hari kemudian, situasi berbalik.


Halaman:

Komentar