Panggilan telepon penting terjadi Kamis lalu antara dua pemimpin Timur Tengah. Di satu sisi, ada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. Di sisi lain, Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian. Latar belakangnya? Ancaman militer AS yang kian panas.
Menurut laporan Saudi Gazette yang mengutip kantor berita resmi SPA, MBS sang penguasa de facto Saudi menegaskan satu hal dengan jelas. Kerajaannya bakal menghormati penuh kedaulatan Iran. Bahkan lebih dari itu, Arab Saudi menolak keras wilayah udaranya, apalagi daratnya, dipakai untuk aksi militer apapun yang menargetkan negara Republik Islam itu. Sumber serangannya dari mana pun, sikapnya tetap sama.
“Saya tegaskan kembali sikap Saudi dalam menghormati kedaulatan Iran,” begitu kira-kira penegasan MBS, seperti dikutip dari laporan itu.
Dalam percakapan yang cukup hangat itu, MBS juga menekankan komitmennya pada jalan diplomasi. Dialog, katanya, adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan perselisihan dan menciptakan stabilitas di kawasan yang sudah terlalu sering dilanda gejolak.
Dari seberang teluk, Presiden Pezeshkian memberi gambaran tentang situasi dalam negerinya. Dia meng-update perkembangan terbaru, termasuk bagaimana pemerintahannya menghadapi beragam tantangan dan pembicaraan seputar program nuklir Iran. Rupanya, sikap tegas Saudi itu mendapat sambutan hangat.
Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas posisi Riyadh. Dia juga memuji inisiatif-inisiatif sang Putra Mahkota yang dinilainya mendorong keamanan regional. Sebelum Saudi, Uni Emirat Arab juga sudah bersuara lantang. Mereka menolak wilayahnya digunakan untuk logistik atau serangan militer ke Iran.
Ancaman dari Washington
Semua ini terjadi di tengah rentetan ancaman dari Gedung Putih. Awalnya, Presiden Donald Trump mengancam akan bertindak jika Iran mengeksekusi massal demonstran. Ancaman itu mereda sejenak setelah dia bilang eksekusi massal "tak ada lagi". Tapi beberapa hari kemudian, situasi berbalik.
Armada perang AS dikerahkan ke Timur Tengah. Lalu, pada Rabu 27 Januari, Trump kembali menyalakan kertas minyak lewat media sosialnya. Dia mendesak Iran segera berunding soal nuklir atau menghadapi konsekuensinya.
Berikut cuplikan pernyataannya yang khas:
Rombongan armada besar sedang menuju Iran. Armada itu bergerak cepat, dengan kekuatan, semangat, dan tujuan yang besar. Ini adalah armada yang lebih besar, dipimpin oleh kapal induk besar Abraham Lincoln, dibandingkan armada yang pernah dikirim ke Venezuela. Seperti halnya Venezuela, armada ini siap, bertekad, dan mampu melaksanakan misinya dengan cepat, dengan kecepatan dan kekerasan jika diperlukan.
Semoga Iran segera “datang ke meja perundingan” dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan seimbang TANPA SENJATA NUKLIR kesepakatan yang baik bagi semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar soal urgensi!
Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUATLAH KESEPAKATAN! Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah “Operasi Midnight Hammer”, sebuah kehancuran besar terhadap Iran. Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan biarkan itu terjadi lagi.
Operasi Midnight Hammer yang dia sebut itu merujuk pada serangan AS di Juni 2025 terhadap situs-situs yang diduga terkait nuklir Iran. Ancaman Trump jelas tidak main-main. Tapi Iran juga bukan pihak yang mudah gentar.
Merespon semua ini, Tehran sudah menyatakan kesiapannya. Mereka akan membalas habis-habisan jika negaranya diserang. Jadi, sementara diplomasi antara Riyadh dan Tehran mencair, ketegangan dengan Washington justru mengeras. Kawasan ini sekali lagi seperti menahan napas, menunggu langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
Atletico Madrid vs Arsenal Imbang 1-1, Dua Gol Penalti Warnai Semifinal Liga Champions
Al-Nassr Perpanjang Rekor 20 Kemenangan Beruntun Usai Tekuk Al-Ahli 2-0
774 Pelanggaran Disiplin Terjadi di Kemenimipas, Bolos Kerja Mendominasi hingga 42 Pegawai Dipecat
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton