Ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump kepada Iran kembali memanaskan ketegangan di kawasan. Kali ini, fokusnya bukan pada unjuk rasa dalam negeri Iran, melainkan desakan keras untuk segera kembali ke meja perundingan. Trump mendesak Iran membuat kesepakatan nuklir, dan ancamannya kali ini terasa lebih gelap.
Lewat sebuah unggahan di media sosial, Trump memberi peringatan yang gamblang.
"Semoga Iran segera 'duduk di meja perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata - tanpa senjata nuklir - kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!" tulisnya, Kamis lalu.
Tapi di balik ajakan berunding itu, ada ancaman militer yang tak tersamarkan. Menurut Reuters, Trump mengancam serangan AS akan jauh lebih buruk dari yang sebelumnya.
"Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi," tegas Trump.
Ancaman itu bukan omong kosong. Kita masih ingat, pada Juni 2025 lalu, AS pernah melancarkan serangan yang menghantam tiga fasilitas nuklir Iran. Kini, situasinya makin mencekam. Armada tempur AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, kembali dikerahkan ke perairan Timur Tengah, mendekati wilayah Iran. Pengerahan ini awalnya dikaitkan dengan respons atas tindakan Tehran terhadap para pendemo, namun kini sepertinya skalanya meluas.
Di sisi lain, Iran sama sekali tak terlihat gentar. Mereka justru membalas dengan kata-kata yang tak kalah keras.
Ali Shamkhani, penasihat pemimpin tertinggi Iran, menyatakan negaranya siap membalas setiap serangan. Dan bukan cuma ke AS, tapi juga ke sekutu-sekutunya.
“Setiap tindakan militer, dari Amerika, dari asal mana pun dan pada tingkat apa pun, akan dianggap sebagai awal perang, dan tanggapannya akan segera, habis-habisan, dan belum pernah terjadi sebelumnya, menargetkan jantung Tel Aviv dan semua pendukung agresor,” kata Shamkhani, seperti dilaporkan Aljazeera.
Peringatan itu jelas dan berbahaya: konflik lokal bisa dengan cepat melebar menjadi perang regional.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, juga menegaskan kesiapan militer negaranya. Dia menyebut pengalaman dari "Perang 12 Hari" telah membuat Iran lebih siap.
“Pelajaran berharga yang dipetik dari Perang 12 Hari telah memungkinkan kami untuk menanggapi dengan lebih kuat, cepat, dan mendalam,” ujarnya.
Namun begitu, Araghchi tetap membuka pintu diplomasi. Hanya, dengan syarat-syarat yang jelas.
“Pada saat yang sama, Iran selalu menyambut kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan merata – dengan kedudukan yang sama, dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi,” tuturnya.
Jadi, beginilah situasinya sekarang. Di satu sisi, ancaman serangan yang lebih dahsyat menggantung. Di sisi lain, janji pembalasan yang "habis-habisan" dan berpotensi memicu kebakaran besar. Di tengah semua retorika militer yang memanas, ajakan untuk berunding masih terdengar, meski diwarnai deadline dan ultimatum. Waktunya memang hampir habis. Dan langkah selanjutnya, entah ke meja perundingan atau medan perang, akan menentukan banyak hal.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu