Operasi pasukan elite Amerika Serikat berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump menyebut penangkapan itu terkait tuduhan perdagangan narkoba. Tapi, pernyataan Trump selanjutnya justru memunculkan banyak tanda tanya, terutama soal masa depan industri minyak Venezuela.
“Kita akan kirim perusahaan-perusahaan minyak AS terbesar di dunia untuk masuk ke sana,” ujar Trump, Sabtu (3/1) waktu setempat. “Mereka akan habiskan miliaran dolar, perbaiki infrastruktur yang rusak parah, dan mulai hasilkan uang untuk negara tersebut.”
Nada itu langsung memantik kecurigaan. Banyak yang menduga, motif sebenarnya di balik penangkapan Maduro bukanlah narkoba, melainkan minyak.
“Ini jelas pertumpahan darah demi minyak. Tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba,” tegas anggota DPR dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss.
Ia menambahkan, “Kokain yang mereka kirim sebagian besar ke Eropa. Bukan itu yang membunuh warga Amerika. Fentanyl dari China-lah masalahnya.”
Lalu, bagaimana sih sebenarnya kondisi industri minyak Venezuela yang disebut-sebut punya cadangan terbesar di dunia itu? Mari kita lihat lebih dekat.
Raja Cadangan, Bukan Produksi
Venezuela memang duduk di atas tumpukan minyak terbesar di planet ini sekitar 303 miliar barel atau 17% cadangan global, mengalahkan Arab Saudi. Tapi, memiliki dan memproduksi adalah dua hal yang berbeda sama sekali.
Produksinya jauh dari kata gemilang. Salah urus, investasi yang mandek, dan sanksi internasional yang bertubi-tubi membuat angka produksi terus merosot. Cadangannya pun sebagian besar berupa heavy oil di kawasan Orinoco, yang notabene lebih sulit dan mahal untuk diekstraksi.
Artikel Terkait
Menteri Hukum Tegaskan KUHP Baru: Ini Produk Politik, Tak Bisa Memuaskan Semua Pihak
ASN Parepare Diciduk Polisi, Motifnya Cuma Demi Gaya-Gayaan
Ketika Game Over Menjadi Kenyataan: Ambang Gugur dan Rapuhnya Mimpi Amerika
Nadiem Makarim Tiba dengan Borgol, Disambut Tepuk Tangan di Sidang Perdana