Operasi AS Tangkap Maduro, Motif Sebenarnya Minyak atau Narkoba?

- Minggu, 04 Januari 2026 | 12:00 WIB
Operasi AS Tangkap Maduro, Motif Sebenarnya Minyak atau Narkoba?

Operasi pasukan elite Amerika Serikat berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump menyebut penangkapan itu terkait tuduhan perdagangan narkoba. Tapi, pernyataan Trump selanjutnya justru memunculkan banyak tanda tanya, terutama soal masa depan industri minyak Venezuela.

“Kita akan kirim perusahaan-perusahaan minyak AS terbesar di dunia untuk masuk ke sana,” ujar Trump, Sabtu (3/1) waktu setempat. “Mereka akan habiskan miliaran dolar, perbaiki infrastruktur yang rusak parah, dan mulai hasilkan uang untuk negara tersebut.”

Nada itu langsung memantik kecurigaan. Banyak yang menduga, motif sebenarnya di balik penangkapan Maduro bukanlah narkoba, melainkan minyak.

“Ini jelas pertumpahan darah demi minyak. Tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba,” tegas anggota DPR dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss.

Ia menambahkan, “Kokain yang mereka kirim sebagian besar ke Eropa. Bukan itu yang membunuh warga Amerika. Fentanyl dari China-lah masalahnya.”

Lalu, bagaimana sih sebenarnya kondisi industri minyak Venezuela yang disebut-sebut punya cadangan terbesar di dunia itu? Mari kita lihat lebih dekat.

Raja Cadangan, Bukan Produksi

Venezuela memang duduk di atas tumpukan minyak terbesar di planet ini sekitar 303 miliar barel atau 17% cadangan global, mengalahkan Arab Saudi. Tapi, memiliki dan memproduksi adalah dua hal yang berbeda sama sekali.

Produksinya jauh dari kata gemilang. Salah urus, investasi yang mandek, dan sanksi internasional yang bertubi-tubi membuat angka produksi terus merosot. Cadangannya pun sebagian besar berupa heavy oil di kawasan Orinoco, yang notabene lebih sulit dan mahal untuk diekstraksi.

Dari Masa Kejayaan ke Titik Nadir

Negara ini adalah salah satu pendiri OPEC. Di era 1970-an, Venezuela bisa memompa 3,5 juta barel per hari, menyumbang lebih dari 7% produksi global. Kini? Angkanya anjlok drastis.

Sepanjang tahun lalu, produksi rata-ratanya hanya sekitar 1,1 juta barel per hari sedikit sekali, cuma 1% dari total dunia. Penurunan yang sangat dramatis.

“Kalau benar ada perubahan rezim yang permanen, pasar bisa dapat pasokan minyak lebih banyak ke depannya,” kata Arne Lohmann Rasmussen dari Global Risk Management. “Tapi, butuh waktu lama untuk pemulihan total.”

Analis lain, Saul Kavonic dari MST Marquee, sepakat. Menurutnya, pencabutan sanksi dan kembalinya investor asing bisa mendongkrak ekspor Venezuela. Namun, Jorge Leon dari Rystad Energy mengingatkan, “Sejarah menunjukkan perubahan rezim paksa jarang bikin pasokan minyak stabil dengan cepat. Lihat saja Libya dan Irak.”

Jalan Berliku Investasi Asing

Industri minyak Venezuela dinasionalisasi pada 1970-an lewat PDVSA. Era 1990-an sempat terbuka untuk investor asing, sebelum akhirnya ditutup lagi saat Hugo Chavez berkuasa. PDVSA kemudian membentuk sejumlah usaha patungan dengan raksasa seperti Chevron, CNPC China, ENI, Total, dan Rosneft Rusia, dengan harapan produksi bisa naik.

Hubungan Rumit dengan Dua Raksasa

Dulu, AS adalah pembeli utama minyak Venezuela. Tapi hubungan itu putus oleh sanksi. Dalam dekade terakhir, China mengambil alih peran itu. Caranya? Dengan skema utang.

Venezuela punya utang sekitar $10 miliar ke China, yang dibayar dengan mengirimkan minyak mentah. Pengiriman ini menggunakan kapal-kapal tanker raksasa. Menariknya, dua dari kapal itu sedang mendekati Venezuela tepat saat Trump mengumumkan blokade terhadap semua kapal tanker yang masuk dan keluar dari negara tersebut.

Sekarang, menurut dokumen internal dan data pelayaran, kapal-kapal itu cuma bisa menunggu di tempat. Ekspor Venezuela praktis terhenti. Trump sendiri, dalam wawancara dengan Fox News, cuma bilang China akan “dapat minyaknya” tanpa penjelasan lebih rinci. Sebuah akhir yang menggantung untuk sebuah drama geopolitik yang masih penuh ketidakpastian.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar