Palestina Tolak Klaim Israel atas Tepi Barat: Negara Kami Bukan untuk Dijual

- Jumat, 20 Februari 2026 | 03:30 WIB
Palestina Tolak Klaim Israel atas Tepi Barat: Negara Kami Bukan untuk Dijual

Kemarin, di markas PBB, suara diplomat Israel Gideon Saar menggema. Ia bicara soal hak historis bangsa Israel atas "tanah Alkitab". Tapi ribuan kilometer dari sana, di Ramallah, respons pemerintah Palestina datang dengan nada keras dan tegas.

Kementerian Luar Negeri Palestina secara terang-terangan menolak rencana ekspansionis Israel di Tepi Barat. Intinya satu: Palestina bukan barang dagangan. "Negara kami tidak untuk dijual," begitu bunyi pernyataan resmi mereka, yang dilansir Al-Jazeera pada Jumat (20/2/2026).

Menurut mereka, komentar Saar itu hanyalah episode terbaru dari upaya panjang penghapusan. Dunia internasional didesak untuk bertindak.

"Sudah saatnya dunia menolak negara nakal yang melanggar hukum internasional dan melakukan pembersihan etnis setiap hari," tulis kementerian itu di platform X.

Tak cuma itu. Mereka juga menyerukan agar komunitas global berani menghadapi apa yang disebut sebagai "kelompok-kelompok pemukim teroris".

Di sisi lain, pesan untuk rakyatnya sendiri justru penuh keteguhan. Pihak Kemlu menegaskan, rakyat Palestina harus tetap bertahan di tanah air mereka. Justru para pemukim, dalam pandangan mereka, yang seharusnya pergi.

"Rakyat Palestina tetap berada di tanah mereka. Mereka yang harus pergi adalah para penjajah pemukim rasis," tambah pernyataan itu lagi, tak menyisakan ruang untuk ambigu.

Semua ini adalah reaksi langsung atas pidato Saar di Dewan Keamanan PBB. Dalam pidatonya, diplomat senior Israel itu tak hanya menolak kritik, tetapi juga secara efektif mendukung pencaplokan Tepi Barat. Ia bahkan menyebut tidak ada bangsa lain yang punya hak lebih kuat atas wilayah tersebut selain Israel.

Dan seperti yang sempat kami laporkan, Saar juga menyelipkan pujian untuk "Dewan Perdamaian" era Trump. Israel, katanya, akan berupaya meneruskan "keberhasilannya".

Namun begitu, bagi Palestina, "keberhasilan" yang dimaksud itu terasa seperti ancaman eksistensial. Maka, pernyataan dari Kemlu mereka pun ditutup dengan kalimat yang terdengar seperti semboyan perlawanan: "Palestina tidak untuk dijual, dan Israel tidak akan berhasil."

Pertarungan narasi dan diplomasi ini, jelas, masih panjang. Dan di Tepi Barat, ketegangan sepertinya takkan mereda dalam waktu dekat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar