Di sisi lain, Iran sama sekali tak terlihat gentar. Mereka justru membalas dengan kata-kata yang tak kalah keras.
Ali Shamkhani, penasihat pemimpin tertinggi Iran, menyatakan negaranya siap membalas setiap serangan. Dan bukan cuma ke AS, tapi juga ke sekutu-sekutunya.
“Setiap tindakan militer, dari Amerika, dari asal mana pun dan pada tingkat apa pun, akan dianggap sebagai awal perang, dan tanggapannya akan segera, habis-habisan, dan belum pernah terjadi sebelumnya, menargetkan jantung Tel Aviv dan semua pendukung agresor,” kata Shamkhani, seperti dilaporkan Aljazeera.
Peringatan itu jelas dan berbahaya: konflik lokal bisa dengan cepat melebar menjadi perang regional.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, juga menegaskan kesiapan militer negaranya. Dia menyebut pengalaman dari "Perang 12 Hari" telah membuat Iran lebih siap.
“Pelajaran berharga yang dipetik dari Perang 12 Hari telah memungkinkan kami untuk menanggapi dengan lebih kuat, cepat, dan mendalam,” ujarnya.
Namun begitu, Araghchi tetap membuka pintu diplomasi. Hanya, dengan syarat-syarat yang jelas.
“Pada saat yang sama, Iran selalu menyambut kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan merata – dengan kedudukan yang sama, dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi,” tuturnya.
Jadi, beginilah situasinya sekarang. Di satu sisi, ancaman serangan yang lebih dahsyat menggantung. Di sisi lain, janji pembalasan yang "habis-habisan" dan berpotensi memicu kebakaran besar. Di tengah semua retorika militer yang memanas, ajakan untuk berunding masih terdengar, meski diwarnai deadline dan ultimatum. Waktunya memang hampir habis. Dan langkah selanjutnya, entah ke meja perundingan atau medan perang, akan menentukan banyak hal.
Artikel Terkait
Sertifikat Gratis untuk Korban Bencana Jadi Fokus Pertemuan Malam Sekretariat Kabinet
Izin Dicabut, Operasi Tetap Jalan: Kritik Pedas untuk 28 Perusahaan Pasca-Longsor
Hujan Deras Pagi Ini Lumpuhkan Rute Transjakarta
Rektor UGM Dikoreksi Sendiri: Dua Versi Kelulusan Jokowi dalam Video Resmi