"Yang penting adalah pelayanan berangkat dari hati, empatik, dan memperhatikan kebutuhan spesifik perempuan, yang itu tidak bisa dilakukan oleh petugas laki-laki,"
tegasnya.
Ia lalu memberi contoh konkret. Misalnya, petugas haji perempuan harus jeli menangkap kebutuhan spesifik di tempat-tempat seperti kamar mandi atau kamar untuk lansia. Detail-detail kecil yang sering terlewatkan.
"Dalam hal misalkan dalam kamar ya. Dalam kamar yang lansia, kami juga mengusulkan jangan semuanya lansia sekamar itu. Tetapi ada juga yang mungkin masih muda-muda, sehingga bisa saling membantu,"
ujarnya menjelaskan.
Dari situlah, harapannya jelas: layanan untuk jemaah lansia bisa jauh lebih optimal. Baginya, ini bukan sekadar urusan teknis, tapi lebih dari itu.
"Layanan yang baik itu kan berarti menunjukkan bahwa pemerintah hadir untuk memberikan perhatian khusus untuk para masyarakatnya yang sedang menunaikan haji di Tanah Suci,"
pungkas Arifatul menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Kue Bolu Bantat untuk Siswa SD Pangkep Kembali Soroti Pengawasan Program Gizi
Bandara Sultan Hasanuddin Sambut Pemudik dengan Hampers Kejutan di Conveyor Belt
Lille Kalahkan Rennes 2-1 di Roazhon Park, Perkuat Posisi di Papan Atas
AVC Tetapkan Grup Champions Club Asia 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah dengan Dua Wakil