Mendag Klaim Harga Pokok Stabil, Pedagang Laporkan Kenaikan Jelang Lebaran

- Senin, 16 Maret 2026 | 09:45 WIB
Mendag Klaim Harga Pokok Stabil, Pedagang Laporkan Kenaikan Jelang Lebaran

Jelang Lebaran 2026, suasana di Pasar Rawasari, Jakarta Pusat, tampak ramai. Meski beberapa pedagang sudah mulai mudik, aktivitas belanja tetap berjalan. Di tengah keriuhan itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan harga sejumlah bahan pokok masih terpantau stabil.

“Banyak yang harganya masih stabil, seperti ayam ya, kemudian bawang merah, cabai, Minyakita juga relatif stabil,” ujar Budi, Senin (16/3).

Ia baru saja turun langsung mengecek kondisi pasar. Menurutnya, pemantauan rutin dilakukan lewat sistem SP2KP dan kunjungan ke 550 titik pasar di berbagai daerah.

Untuk rinciannya, harga ayam tercatat Rp40.000 per kilogram, persis sesuai harga acuan. Sementara daging sapi bervariasi. Ada yang Rp140.000, ada juga yang sampai Rp150.000 per kilogram.

“Sebenarnya HAP-nya Rp140.000 per kilogram itu. Tapi ada yang Rp150.000, artinya masih sesuai dengan harga acuan penjualan tertinggi,” jelasnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas lain juga menunjukkan tren yang cukup terkendali. Cabai merah keriting, misalnya, dijual sekitar Rp40.000/kg, masih dalam rentang HAP nasional. Meski begitu, Budi mengakui ada kenaikan tipis untuk cabai rawit dan telur. “Naik sedikit ya, tapi tidak terlalu tinggi,” katanya.

Bawang merah ada di angka Rp40.000 per kilogram. Sedangkan Minyakita dijual sesuai HET, Rp15.700 per liter. Menariknya, Budi menyebut harga rata-rata Minyakita nasional justru turun, dari sebelumnya Rp16.800 menjadi Rp15.800 per liter sekarang.

Ia juga menyinggung soal banyaknya pilihan minyak goreng second brand di pasar. “Minyak pendamping Minyakita ini biar masyarakat punya banyak pilihan. Tidak hanya Minyakita yang terjangkau, tapi juga minyak-minyak lain,” terang Budi.

Lalu, bagaimana dengan suara dari lapangan? Ternyata, ceritanya agak berbeda.

Hendra, pedagang telur di Pasar Rawasari, mengaku harga telur biasa sekarang Rp32.000/kg. “Naiknya sejak sebelum Ramadan, tapi cuma sekitar seribu rupiah,” katanya. Ia memprediksi harga puncak mungkin hanya sentuh Rp33.000.

Cerita serupa datang dari Samsul, pedagang cabai. Menurutnya, cabai rawit sudah melonjak ke Rp130.000 per kilogram. Padahal bulan lalu masih sekitar Rp100.000. “Mungkin pengaruh cuaca di tingkat petani,” ujarnya. Bawang merah dan putih di lapaknya malah lebih mahal dari klaim pemerintah, masing-masing Rp50.000/kg.

Beras pun tak luput dari kenaikan. Salam, seorang pedagang beras, menyebut harga naik Rp500 sampai Rp1.000 per liter dalam dua minggu terakhir. Beras medium sekarang sekitar Rp12.500 per liter. “Pola tahunan sih, jelang Lebaran memang biasa naik,” ucap Salam, sambil menata karung-karung beras di tokonya.

Yang paling pesimis adalah Darsa, pedagang daging sapi. Menurutnya, harga daging bagian paha atas sekarang Rp150.000/kg, paha belakang Rp160.000. Dan ia yakin ini belum akhir. “Bisa jadi naik lagi. Selalu begitu, biasanya 2-3 hari lagi lebaran pasti naik. Bisa sampai Rp170.000 per kilogram,” pungkas Darsa.

Menanggapi dinamika di lapangan, Budi Santoso menegaskan pemerintah punya sistem pengawasan yang ketat. Melalui SP2KP, pergerakan harga dipantau langsung. Jika ada lonjakan, tim akan langsung berkoordinasi dengan pemda, Satgas Pangan, dan distributor.

“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tegas Budi. “Pemerintah akan menjamin ketersediaan pangan pokok dan harga yang stabil.”

Pemantauan intensif, kata dia, akan terus dilakukan hingga hari raya tiba. Tujuannya satu: memastikan pasokan aman dan harga tidak melonjak tak terkendali. Warga pun bisa merayakan Idulfitri dengan tenang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar