Di Balik Forum Perdamaian: Ketika Diplomasi Indonesia Justru Mengukuhkan Penjajahan

- Rabu, 28 Januari 2026 | 19:50 WIB
Di Balik Forum Perdamaian: Ketika Diplomasi Indonesia Justru Mengukuhkan Penjajahan

Kalau korban terus diminta bersabar, sementara pelaku kejahatan dilindungi oleh sistem internasional, apa yang kita jaga sebenarnya? Bukan perdamaian. Tapi status quo penjajahan itu sendiri.

Ini ujian moral buat negeri Muslim terbesar di dunia.

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, seharusnya Indonesia memainkan peran moral yang lebih tegas. Bukan sekadar simbolik. Palestina bagi kita bukan cuma isu politik luar negeri biasa. Ini soal akidah, keadilan, dan amanah sejarah yang berat.

Tapi nyatanya? Keberanian politik sering kalah oleh pertimbangan diplomasi yang rumit. Kita hadir di forum, keluarkan pernyataan normatif, tapi gerak kita tetap dalam koridor yang ditentukan kekuatan global. Akibatnya, posisi kita jadi terasa ambigu. Di pidato menolak penjajahan, tapi dalam praktiknya ikut menopang mekanisme yang justru melanggengkannya.

Sejarah nanti tak hanya akan mencatat siapa penindasnya. Tapi juga siapa yang diam, yang berkompromi, atau yang membantu menormalisasi kezaliman.

Palestina sebenarnya tak butuh bahasa-bahasa baru tentang perdamaian. Mereka butuh keberanian dari dunia, terutama negeri-negeri Muslim, untuk menyebut penjajahan ya sebagai penjajahan. Dan untuk berpihak pada pembebasan, bukan pada stabilitas palsu.

Indonesia dihadapkan pada pilihan. Tetap tegak berdiri pada amanat konstitusi dan nurani umat, atau larut dalam skema global yang menjadikan kata 'perdamaian' sebagai wajah baru dari penjajahan yang lama.

Karena dalam catatan sejarah, dukungan yang paling berbahaya seringkali bukan yang terang-terangan membela kezaliman. Melainkan yang diam-diam membuat kezaliman itu terlihat sah dan dapat diterima.

Selvi Sri Wahyuni, M.Pd


Halaman:

Komentar