“Sejak banjir melanda sudah tak bisa berjualan. Otomatis tak punya penghasilan,”
katanya dari dalam rumahnya yang juga terendam.
Beruntung, Fatonah masih punya simpanan uang dari hasil jerih payahnya dulu. Tabungan itulah yang kini jadi penyambung hidup. Namun begitu, ia mengakui cadangannya itu kian menipis, seiring dengan air banjir yang enggan benar-benar surut.
“Tidak ada pemasukan jadi mengandalkan tabungan. Tapi ini tabungan sudah sangat menipis,”
keluhnya.
Berbeda dengan kebanyakan tetangganya yang mengungsi, Fatonah memilih bertahan. Lantai rumahnya sengaja ditinggikan sekitar satu meter, jadi masih bisa ia tempati meski air menggenang. Setelah sempat mengungsi ke rumah anak, ia kembali.
“Awalnya mengungsi ke rumah anak, tapi sudah beberapa hari ini tidur di rumah,” pungkasnya.
Bencana ini memang meluas. Data dari Pemerintah Desa Doropayung mencatat, lebih dari 400 rumah terendam, mengganggu kehidupan 1.475 warga. Sebagian besar terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sekitar 56 jiwa mengungsi di posko desa, sementara ratusan lainnya kira-kira 600 jiwa berserakan mencari perlindungan: ke rumah saudara, sanggar tari, bahkan bekas Stasiun Juwana. Sisanya, seperti Fatonah, memilih bertahan, berjibaku dengan genangan di rumah masing-masing.
Artikel Terkait
Cak Imin Prihatin, Bupati Cilacap Tersangka KPK Diduga Targetkan Dana Rp750 Juta
Andrea Kimi Antonelli Raih Kemenangan Perdana F1 di Shanghai, Mercedes Dominasi Podium
Lebih dari 24 Ribu Jemaah Umrah Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air
Berbuka Puasa di Denpasar Hari Ini Pukul 18.36 WITA