Bayangkan seorang pria yang terkunci dalam tubuhnya sendiri. Hampir seluruhnya lumpuh. Hanya beberapa otot di pipinya yang masih bisa digerakkan, cukup untuk mengendalikan komputer bicaranya. Tapi pikirannya? Pikirannya melesat bebas, menjelajahi sudut-sudut paling ekstrem alam semesta. Dari pusaran gelap singularitas hingga dentuman besar pertama, dari dunia kuantum yang absurd hingga bentangan kosmos yang tak terbayangkan.
Itulah Stephen Hawking. Di puncak ketenarannya pada era 80-an, dia sedang memburu mimpi terbesar dalam sains: Theory of Everything. Sebuah persamaan tunggal yang mampu merangkum semua hukum alam, dari gaya yang mengikat inti atom hingga tarikan yang menggerakkan galaksi.
Dulu, Hawking sangat percaya diri. Bahkan, dalam kuliah perdana sebagai Profesor Lucasian di Cambridge tahun 1980 posisi yang pernah diemban Newton dia mengajukan pertanyaan yang provokatif: "Is the End in Sight for Theoretical Physics?" Apakah akhir sudah terlihat?
Optimismenya waktu itu benar-benar menular. Media sains ramai memberitakan prediksinya. Buku-bukunya laris manis. Dunia seolah menahan napas, berharap sang jenius di kursi roda itu akan menguak rahasia terakhir sang pencipta.
Tapi kemudian, perlahan-lahan, sesuatu berubah.
Suara yang Mulai Ragu
Cambridge, 1980. Suara Hawking sudah sangat lemah, namun pesannya terdengar lantang. Dengan bantuan seorang mahasiswa yang menerjemahkan ucapannya, dia menyampaikan keyakinannya bahwa fisika mungkin akan mencapai tujuannya dalam hidup kita. "Kita mungkin memiliki teori yang lengkap," katanya.
Dia bicara soal dua pilar fisika modern: Relativitas Umum Einstein yang menguasai skala kosmik, dan Mekanika Kuantum yang mengatur dunia subatomik. Masalahnya, keduanya bertolak belakang. Gabungkan mereka, dan yang muncul adalah kekacauan matematika. Tapi Hawking yakin, teori superstring yang sedang berkembang akan menjembatani jurang itu. Dia meramalkan Theory of Everything akan ditemukan sebelum abad ke-20 berakhir.
Keyakinan ini bukan omong kosong. Ini datang dari seorang yang telah membuktikan dirinya dengan karya-karya monumental. Setelah semua yang dia lalui, siapa yang lebih pantas mewujudkan mimpi itu selain Hawking?
Delapan tahun berselang, bukunya "A Brief History of Time" meledak di pasaran. Di dalamnya, meski lebih hati-hati, dia masih menyisipkan harapan. "Jika kita menemukan jawabannya," tulisnya tentang teori pamungkas itu, "itu akan menjadi kemenangan tertinggi akal manusia karena saat itu kita akan mengetahui pikiran Tuhan."
Kalimat itu melegenda. Tapi siapa sangka, di balik keyakinan yang terdengar absolut itu, benih keraguan justru mulai bersemi.
Benturan dengan Gödel
Titik baliknya datang dari matematika murni, bukan fisika. Namanya Teorema Ketidaklengkapan Gödel.
Sebenarnya Hawking sudah lama mengenal karya Kurt Gödel ini. Tapi ada momen ketika pengetahuan itu berubah menjadi kesadaran yang mengganggu. Beberapa koleganya mencatat, di akhir 80-an dan awal 90-an, nama Gödel semakin sering muncul dalam obrolan seriusnya.
Inti teorema Gödel sederhana namun menghancurkan: dalam sistem matematika yang cukup kompleks, selalu ada pernyataan yang benar tapi tak bisa dibuktikan kebenarannya dalam sistem itu sendiri. Sistem itu juga tak bisa membuktikan dirinya sendiri konsisten tanpa bantuan sistem lain yang lebih kuat. Dan seterusnya, tanpa akhir.
Pertanyaan yang mengusik Hawking kemudian: kalau matematika bahasa paling sakral yang kita gunakan untuk memahami alam punya batasan fundamental, bagaimana dengan fisika yang ditulis dengan bahasa itu?
Pengakuan di Muka Publik
Perubahan hatinya itu akhirnya dia umumkan pada tahun 2002, dalam sebuah kuliah di Cambridge berjudul "Gödel and the End of Physics". Sungguh sebuah pernyataan yang mengejutkan.
Artikel Terkait
Permintaan Maaf dan Bantuan Berdatangan untuk Penjual Es Kue yang Pernah Dianiaya
KPK Ungkap Kendala Operasi Tangkap Tangan di Tengah Modus Korupsi yang Makin Canggih
Polisi Selidiki Peredaran Gas Tertawa Usai Diduga Tewaskan Influencer
Tiga Pekan Banjir Pati, Kerupuk dan Jajanan Tak Lagi Menghidupi