Kekerasan fisik dan psikis tiba-tiba diringkas jadi urusan kompensasi materi. Seakan persoalan intinya cuma kerugian ekonomi, bukan trauma, rasa takut, dan penghinaan yang sudah terlanjur mencakar.
Ini bukan kasus tunggal. Sayangnya, ini pola. Aparat yang seharusnya melayani, digaji dari uang rakyat, justru berlagak bak penguasa kecil. Relasinya terbalik total. Yang membayar malah diperlakukan seperti bawahan, bahkan lebih rendah.
Reposisi mendesak untuk dilakukan. Aparat harus kembali ke fungsi asalnya: pelindung, bukan perundung. Pejabat itu pelayan, bukan majikan. Kalau tidak, hari ini korban si penjual es gabus. Besok, bisa jadi pedagang cireng di ujung jalan. Lusa, siapa lagi? Negara sibuk bagi-bagi simbol ganti rugi, sementara martabat warga sedikit demi sedikit terkikis habis.
(Labib Muhsin)
Artikel Terkait
Kapolri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Penyiraman Aktivis KontraS
Cak Imin Prihatin, Bupati Cilacap Tersangka KPK Diduga Targetkan Dana Rp750 Juta
Andrea Kimi Antonelli Raih Kemenangan Perdana F1 di Shanghai, Mercedes Dominasi Podium
Lebih dari 24 Ribu Jemaah Umrah Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air