Kekerasan fisik dan psikis tiba-tiba diringkas jadi urusan kompensasi materi. Seakan persoalan intinya cuma kerugian ekonomi, bukan trauma, rasa takut, dan penghinaan yang sudah terlanjur mencakar.
Ini bukan kasus tunggal. Sayangnya, ini pola. Aparat yang seharusnya melayani, digaji dari uang rakyat, justru berlagak bak penguasa kecil. Relasinya terbalik total. Yang membayar malah diperlakukan seperti bawahan, bahkan lebih rendah.
Reposisi mendesak untuk dilakukan. Aparat harus kembali ke fungsi asalnya: pelindung, bukan perundung. Pejabat itu pelayan, bukan majikan. Kalau tidak, hari ini korban si penjual es gabus. Besok, bisa jadi pedagang cireng di ujung jalan. Lusa, siapa lagi? Negara sibuk bagi-bagi simbol ganti rugi, sementara martabat warga sedikit demi sedikit terkikis habis.
(Labib Muhsin)
Artikel Terkait
Tiga Pekan Banjir Pati, Kerupuk dan Jajanan Tak Lagi Menghidupi
Brimob Kerahkan Senjata Air Berat Atasi Kobaran Api di Pabrik Ban Medan
Polisi Desak Tinjau Ulang Regulasi Gas Nitrous Oxide, Waspadai Pola Mirip Etomidate
Es Gabus Palsu Berujung Damai di Masjid Bogor