Memasuki babak hidup yang baru, perlahan aku berubah. Nggak lagi nangis berlebihan. Bukan karena rasa itu hilang begitu aja, tapi karena aku belajar ngelola perasaan dengan lebih jujur. Aku paham sekarang, kuat itu bukan berarti menahan semua rasa sakit sendirian. Tapi berani berhenti ketika semuanya udah terlalu menyiksa.
Intinya, aku belajar milih diriku sendiri.
Ngomong-ngomong, tulisan ini bukan buat nyalahin siapa-siapa. Bukan soal siapa yang paling terluka atau paling bersalah. Ini lebih ke soal keberanian. Keberanian buat ngakuin bahwa nggak semua cinta harus dipertahankan sampe habis.
Kadang, bentuk cinta yang paling dewasa ya justru pergi.
Bukan karena nggak sayang.
Tapi karena akhirnya kita memilih untuk tetap utuh, sebagai diri sendiri.
Artikel Terkait
Bondowoso Dorong Kantin Sekolah Jadi Pemasok Program Makanan Bergizi
Gudang Logistik PLN di Ende Ludes Dilahap Api, Diduga Akibat Korsleting
Felix Siauw Kecam Langkah Prabowo di Davos: Penjajahan Gaya Baru
Kebanggaan yang Membelenggu: Ketika Jalan Sendiri Justru Memperpanjang Penderitaan