Iran Ancam Serang Fasilitas Militer AS di UEA, Balas Serangan di Selat Hormuz

- Minggu, 15 Maret 2026 | 06:20 WIB
Iran Ancam Serang Fasilitas Militer AS di UEA, Balas Serangan di Selat Hormuz

Dari Teheran, peringatan keras dilayangkan. Iran secara resmi memperingatkan Uni Emirat Arab bahwa mereka tak akan segan menyerang fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di wilayah UEA. Alasannya? Negeri Teluk itu dianggap membiarkan wilayahnya dipakai AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Ancaman ini bukan datang tiba-tiba. Ini adalah respons langsung atas serangan AS di sekitar Pulau Kharg, yang terletak di Selat Hormuz yang strategis. AS disebut menyerang untuk memaksa Iran membuka blokade di jalur pelayaran minyak global itu.

Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengonfirmasi bahwa pesan peringatan telah sampai ke pihak UEA.

"Kami sudah sampaikan ke pimpinan UEA. Iran memandang ini sebagai hak yang sah untuk melindungi kedaulatan. Kami berhak menyerang lokasi peluncuran rudal AS di pelabuhan, plus pangkalan dan tempat perlindungan militer mereka yang tersebar di sejumlah kota UEA," ujar Zolfaghari.

Pernyataannya dikutip kantor berita Tasnim pada Minggu (15/3/2026).

Menurut Zolfaghari, sasaran AS ternyata lebih luas. Bukan cuma Kharg, tapi juga Abu Musa. Dia bahkan menyerukan warga UEA untuk menjauhi area pelabuhan dan zona di sekitar pangkalan militer AS, demi keselamatan mereka.

Di sisi lain, dari Washington, ancaman juga sudah lebih dulu dilontarkan. Presiden AS Donald Trump, pada Jumat, berjanji akan menghajar infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg jika kebebasan navigasi di Selat Hormuz terus diganggu. Situasinya seperti bensin dituang ke api.

Namun begitu, di tengah ketegangan ini, aktivitas bisnis vital Iran tampak berusaha dijalankan seperti biasa. Ehsan Jahanian, wakil gubernur Provinsi Bushehr, menyatakan operasional perusahaan minyak di Pulau Kharg tetap berjalan. Ekspor minyak, klaimnya, tidak terganggu.

"Serangan brutal oleh rezim Zionis-Amerika hari Sabtu lalu memang terjadi. Tapi, operasi di terminal ekspor minyak kami tetap normal," tegas Jahanian.

Dia menambahkan satu poin penting: serangan itu, untungnya, tidak memakan korban jiwa. Baik personel militer, karyawan, maupun penduduk pulau selamat.

Jadi, meski kata-kata perang sudah diterbangkan dari kedua sisi, di lapangan situasinya masih tegang tapi terkendali. Pertanyaannya sekarang, sampai kana?

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar