Prosesnya masih panjang, dan nasib Anies serta partainya digantungkan pada beberapa hal. Respon penguasa lewat Kemenkumham dan KPU adalah faktor pertama. Lalu, kemampuan konsolidasi hingga ke akar rumput mengumpulkan dan merawat pendukung setia Anies. Situasi politik 2026-2029 juga akan jadi penentu. Tak kalah penting, bagaimana Anies dan timnya membaca dan merespons setiap gelombang perubahan politik.
Di sisi lain, kondisi politik ke depan juga akan berpengaruh besar. Jika situasi stabil, Prabowo akan menjadi kekuatan yang sangat sulit ditandingi. Penguasa punya segala instrumen untuk memenangkan pertarungan. Lalu, di tengah kondisi seperti itu, pilihan apa yang tersisa? Apakah Anies dan Partai Gerakan Rakyat akan memilih bergabung dengan koalisi? Atau justru bertahan di jalur oposisi, sambil mematangkan kekuatan untuk pemilu berikutnya?
Memang, pertanyaan-pertanyaan ini terasa masih jauh. Tapi cepat atau lambat, pilihan itu harus diambil. Dan respon Anies nantinya, akan ikut membentuk dinamika politik Indonesia.
Yang pasti sekarang, kelahiran Partai Gerakan Rakyat ini menegaskan satu hal: Anies Baswedan belum selesai. Ia masih eksis, dan lewat wadah ini, potensinya untuk menjadi kekuatan politik masa depan tetap terbuka.
Jakarta, 27 Januari 2026.
Artikel Terkait
TAUD Desak Polisi Ungkap Dalang Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS
25 Kilogram Kokain Diamankan di Pesisir Selayar, Diduga Bagian Jaringan Internasional
TASPEN Gelar Mudik Gratis untuk 1.400 Pemudik dengan Asuransi Rp20 Juta
Pemkot Makassar Izinkan Takbiran di Lingkungan, Larang Konvoi dan Petasan