Namun begitu, program ini jauh lebih dari sekadar gedung megah. Ini tentang transformasi hidup. Para siswa dapat pendidikan gratis plus asrama, gizi terpenuhi, dapat layanan kesehatan, dan tentu saja pendidikan karakter. Mereka juga akan dikenalkan dengan pembelajaran berbasis teknologi. Bayangkan, setiap anak dapat seragam lengkap, makan tiga kali sehari ditambah dua kali camilan, bahkan laptop dan akses sistem digital.
Yang menarik, seleksinya tidak pakai tes akademik yang menegangkan. Prosesnya dimulai dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, khususnya mereka yang masuk kelompok desil satu. "Banyak anak yang pintar, punya cita-cita, tapi ada juga yang belum bisa membaca. Justru mereka inilah yang kita rangkul," tambah Gus Ipul.
Saat ini, program tersebut sudah berjalan di 166 lokasi dengan hampir 16 ribu siswa. Presiden mendorong agar lokasinya terus bertambah, termasuk di Lampung. Untuk Kota Metro, Gus Ipul meminta Pemkot segera mengajukan usulan resmi dan berkoordinasi intens dengan Kemensos.
Di sisi lain, Gus Ipul menegaskan kembali visi besarnya. Sekolah Rakyat bukan cuma tempat belajar biasa.
“Anak disekolahkan, orang tua diberdayakan, rumah diperbaiki, bansos lengkap, sampai akhirnya keluarga itu naik kelas dan mandiri,” urainya dengan semangat.
Targetnya jelas dan terukur: saat anak lulus, keluarganya pun diharapkan sudah keluar dari jerat kemiskinan. Sebuah langkah besar yang dimulai dari sebidang lahan, tapi impaknya bisa mengubah banyak masa depan.
Artikel Terkait
Camat Medan Maimun Dicopot Gara-gara Dana Dinas Dipakai Judi Online
Lasarus Ingatkan Menteri PU: Perbaikan Infrastruktur Pascabencana Harus Komprehensif, Bukan Sekadar Tambal Sulam
Gempa 5,5 Magnitudo Guncang Pacitan, Getaran Terasa Hingga Semarang
Aparat Minta Maaf, Es Kue Viral Ternyata Bukan Spons