“Prabowo kepada Luhut saja takut, apalagi kepada Trump dan Netanyahu.”
Kalimat anonim itu beredar di media sosial, mencerminkan satu dari banyak kritik tajam yang muncul. Pemicunya? Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dengan Board of Peace (BOP) bentukan Donald Trump. Banyak orang geram. Bagaimana mungkin, uang negara hampir Rp17 triliun disetor begitu saja untuk sekadar jadi anggota, tanpa syarat apa pun? Di saat yang sama, masalah kemiskinan di dalam negeri masih menumpuk. Rasanya seperti salah urus prioritas.
Namun begitu, masalahnya bukan cuma soal uang. Organisasi yang dipimpin Trump ini sendiri sudah dipertanyakan sejak awal. Trump dikenal sebagai sekutu dekat Netanyahu. Selama ini, sikapnya jelas memihak Israel, sambil membiarkan pembantaian di Gaza terus berlangsung korban jiwa sudah menembus angka sekitar 80 ribu. Bahkan, Trump-lah yang banyak menyuplai senjata ke Israel saat genosida terjadi. Lalu, apa mungkin dia tiba-tiba berubah haluan dan membela Gaza? Mustahil.
Banyak pengamat curiga. Dewan ini cuma kedok untuk membersihkan nama Netanyahu, yang kini jadi tersangka di ICC. Dengan kata lain, ini upaya pencucian citra. Makanya, tak heran Al Jazeera sampai memberi julukan sinis: Dewan Imperialis. Julukan itu punya makna. Gaza mungkin akan dapat ‘perdamaian’, tapi wilayah itu sepenuhnya akan dikendalikan oleh Trump dan kroninya. Rakyat Palestina? Hanya jadi penonton di tanahnya sendiri.
Kekhawatiran itu makin nyata setelah paparan menantu Trump, Jared Kushner, di Davos. Rencananya, Hamas akan dilucuti senjatanya. Padahal, bagi banyak pihak, Hamas adalah pejuang kemerdekaan Palestina yang sah. Peran mereka rencananya akan ‘ditiadakan’ dalam pemerintahan baru Gaza. Wajar saja Hamas menolak keras.
“Hamas siap memfasilitasi penyerahan administrasi Gaza kepada sebuah komite independen, namun masa depan Gaza harus ditentukan oleh rakyat Palestina sendiri dan tidak boleh dipaksakan dari luar,” tegas juru bicara Hamas, Hazem Qassem, seperti dilaporkan Anadolu Agency awal Januari 2026.
Penolakan juga datang dari cendekiawan. Imam Shamsi Ali, yang berbasis di New York, menyoroti sikap negara-negara Eropa seperti Jerman dan Inggris yang menolak bergabung. Menurutnya, itu pertanda bahwa dewan ini cuma mainan Trump untuk kepentingan pribadi.
“Menjadi bagian Dewan Perdamaian adalah bentuk kenaifan yang nyata,” ujar Shamsi Ali. Ia juga khawatir anggota dewan nantinya akan dibujuk atau bahkan dipaksa untuk bergabung dengan ‘Abraham Accord’ dan mengakui Israel. “Mengambil bagian adalah keputusan yang tidak matang dan berbahaya,” tegasnya.
Artikel Terkait
Sayembara dari Solo: Iming-iming Damai untuk Penggugat Ijazah Palsu
Gas Tawa dan Alkohol: Tren Maut yang Merambah Kalangan Anak Muda
Hujan Jadi Penghalang, Perbaikan Jalan Berlubang di Jakarta Tunggu Cuaca Reda
Partai Baru Anies: Pintu Politik Terbuka atau Jalan Buntu?