Lantas, bagaimana seharusnya? Pendidikan humanis itu perlu punya tiga ranah, kira-kira seperti yang pernah digagas Habermas.
Pertama, pembelajaran teknis. Ini soal menguasai sains dan teknologi untuk mengelola alam.
Kedua, pembelajaran praktis. Di sini, kita perlu memahami realitas sosial lewat ilmu humaniora.
Yang terakhir dan paling krusial: pembelajaran emansipatoris. Tujuannya menumbuhkan kesadaran untuk melawan penindasan dan menjaga martabat manusia. Tanpa ini, pendidikan cuma jadi alat penjinakan.
Kunci Utamanya: Perbaiki Ekonomi Dulu
Jelas, pendidikan nggak bisa jalan sendirian. Peran negara mutlak diperlukan untuk meratakan ketimpangan upah dan membuka lapangan kerja yang layak. Jujur saja, selama "urusan perut" belum beres, wacana pendidikan humanis cuma akan jadi slogan kosong yang indah didengar.
Intinya, pemerataan ekonomi adalah kuncinya. Bayangkan jika setiap profesi entah itu guru, seniman, atau peneliti dihargai secara layak. Maka, anak-anak akan bebas mengejar bakatnya tanpa rasa was-was. Dari situlah lahir generasi baru. Mereka bukan cuma pinter secara teknis, tapi juga punya empati dan kesadaran kritis untuk membangun dunia yang lebih adil.
Artikel Terkait
Malumologi: Saat Rasa Malu Tak Lagi Menjadi Rem bagi Koruptor
Sekjen NATO Ingatkan Eropa: Tanpa AS, Pertahanan Sendiri Hanya Mimpi
Sindiran Angin Tak Punya KTP Justru Bukti Anies Paling Jujur Soal Polusi Jakarta
Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin Dipolisikan ke Polda Metro Jaya