Lantas, bagaimana seharusnya? Pendidikan humanis itu perlu punya tiga ranah, kira-kira seperti yang pernah digagas Habermas.
Pertama, pembelajaran teknis. Ini soal menguasai sains dan teknologi untuk mengelola alam.
Kedua, pembelajaran praktis. Di sini, kita perlu memahami realitas sosial lewat ilmu humaniora.
Yang terakhir dan paling krusial: pembelajaran emansipatoris. Tujuannya menumbuhkan kesadaran untuk melawan penindasan dan menjaga martabat manusia. Tanpa ini, pendidikan cuma jadi alat penjinakan.
Kunci Utamanya: Perbaiki Ekonomi Dulu
Jelas, pendidikan nggak bisa jalan sendirian. Peran negara mutlak diperlukan untuk meratakan ketimpangan upah dan membuka lapangan kerja yang layak. Jujur saja, selama "urusan perut" belum beres, wacana pendidikan humanis cuma akan jadi slogan kosong yang indah didengar.
Intinya, pemerataan ekonomi adalah kuncinya. Bayangkan jika setiap profesi entah itu guru, seniman, atau peneliti dihargai secara layak. Maka, anak-anak akan bebas mengejar bakatnya tanpa rasa was-was. Dari situlah lahir generasi baru. Mereka bukan cuma pinter secara teknis, tapi juga punya empati dan kesadaran kritis untuk membangun dunia yang lebih adil.
Artikel Terkait
Polri Gunakan Drone dan AI untuk Pantau dan Atur Arus Mudik Lebaran 2026
Komisaris Tinggi HAM PBB Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Bupati Bone Dorong Percepatan Program Perkebunan 2026, Fokus pada Hilirisasi Tebu
Macet Ekstrem Gilimanuk, Pemudik Diturunkan Paksa di Tengah Jalan