Ngopi Sewarung
Pers Petugas Cahaya, Sudah Kehilangan Elan Vital
Dulu, waktu pertama kali masuk ke dunia jurnalistik, kita diajari satu hal yang paling sakral: tugas kita adalah menyiarkan fakta. Menjadi cahaya. Pernah dengar perumpamaan tentang dua matahari? Kalau pun benar ada, salah satunya ya jurnalis itu sendiri. Ada beban kenabian yang melekat di pundak mereka tugas menyebarkan terang. Setiap berita yang ditulis harus memegang teguh prinsip-prinsip yang mendukung kebenaran. Obyektif, menyajikan fakta apa adanya termasuk kedua sisi yang bertentangan lalu mampu menggali lebih dalam lewat investigasi, dan menyampaikannya dengan logika serta etika yang kuat. Beropini boleh saja, asal punya dasar fakta dan nalar yang jelas. Ada batasan kepatutan yang harus dijaga. Makanya, tak heran jika profesi jurnalis sering disandingkan dengan ilmuwan, akademisi, atau budayawan. Mereka sama-sama berusaha menyuarakan kebenaran dan kebaikan, berdasar fakta, logika, etika, dan suara hati yang paling jujur. Karya jurnalistik bukan barang sembarangan. Sebelum disiarkan, ia melalui proses seleksi yang ketat. Mungkin karena itulah dunia ini dulu melahirkan banyak orang besar, berpengaruh, dan berintegritas tinggi.
Media memberi panggung leluasa pada mereka yang berkualitas dan punya integritas. Kalau orang bodoh, jangan harap dapat tempat. Begitu pula dengan tulisan opini yang berpotensi merusak persatuan, atau menyudutkan pihak lain tanpa dasar yang jelas. Itu pasti tak akan lolos. Sebab, pers punya misi mulia: menciptakan dunia dan masa depan umat manusia yang lebih baik.
Tapi itu dulu. Sekarang? Coba lihat keadaan pers setelah media sosial menjamur, seiring derasnya perkembangan teknologi digital. Semua orang kini bebas menulis dan bicara kapan saja, di mana saja. Peran jurnalistik lambat laun tergeser, bahkan terkontaminasi. Media-media mainstream pun ikut terbawa arus. Elan vital mereka sebagai "petugas cahaya" pelan-pelan memudar.
Di sisi lain, banyak opini dan narasumber yang miskin logika, fakta, dan etika justru bebas naik panggung. Mereka bicara cuma berdasar persepsi subyektif belaka. Mencaci, menyebar kebencian, hampir tanpa batas dan itu justru diakomodasi oleh sejumlah lembaga media. Memang, pers harus menampilkan kedua sisi. Namun begitu, seorang jurnalis tetaplah wajib berpihak pada kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Agar dunia tak kehilangan surgawinya.
Get the feeling
Mr. Ten
Artikel Terkait
Pemilu Myanmar: Kemenangan yang Sudah Diatur di Tengah Perang Saudara
Gubernur DKI Soroti Sampah Warga sebagai Biang Kerok Banjir Jakarta Barat
Kapolri Tolak Keras Wacana Polri Dibawah Kementerian: Lebih Baik Jadi Petani
Adies Kadir Ditunjuk DPR Gantikan Arief Hidayat di Mahkamah Konstitusi