"Masalah utamanya bukan membangun gedung," tegas Willson. "Tapi menciptakan massa kritis penduduk. Tanpa populasi yang hidup, infrastruktur terbaik pun kehilangan makna ekonominya."
Di sisi lain, bagi para pengembang, IKN tetap memancarkan peluang. Meski begitu, risikonya juga tinggi. Willson melihat banyak pengembang kini bergerak sangat hati-hati. Fokus mereka lebih ke akuisisi lahan dan konsolidasi, sambil menunggu kepastian. Mereka ingin lihat dulu seberapa cepat aparatur sipil negara dan sektor swasta benar-benar pindah.
Dampak pembangunan IKN sendiri sudah mulai terasa di wilayah sekitarnya. Kota seperti Balikpapan dan Samarinda mulai berperan sebagai pusat layanan dan logistik pendukung. Namun peran itu masih bersifat penunjang, belum jadi penggerak utama perekonomian ibu kota baru.
Willson lalu membandingkan dengan pengalaman di Australia. Di sana, kota-kota baru butuh waktu puluhan tahun untuk benar-benar matang. "IKN bisa memakan waktu 30 tahun atau lebih untuk berfungsi penuh," katanya. "Dengan kondisi ekonomi saat ini, ini jelas bukan permainan cepat."
Pada akhirnya, masa depan IKN akan sangat ditentukan oleh hal-hal mendasar. Kemampuan Indonesia menjaga stabilitas ekonomi, konsistensi kebijakan dari satu periode ke periode berikutnya, dan yang paling krusial: keberhasilan menciptakan aktivitas ekonomi riil di sana. Bukan sekadar memindahkan kantor-kantor pemerintahan.
Artikel Terkait
Ketika Guru Dihargai Sebagai Proyek, Peradaban Menuju Senja
Damai Hari Lubis Laporkan Advokat, Sinyal Pecah Belah dari Solo?
Tebing Eks TPA Bogor Ambles, Hujan Deras Picu Longsor 200 Meter di Pinggir Ciliwung
Felix Siauw Sindir Sikap Pemerintah: Jamin Keamanan Israel, Sementara Gaza Berdarah?